JAKARTA - Rusia kemungkinan gagal bayar utang untuk pertama kalinya sejak 1998. Rusia harus membayar utang USD100 juta atau setara Rp1,4 triliun (kurs Rp14.840/USD) yanng jatuh tempo pada hari Minggu ini.
Kemungkinan gagal bayar pun sangat besar mengingat sejumlah sanksi yang diberikan membuat Rusia sulit untuk membayar pada kreditur internasional.
Namun, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov menegaskan bahwa pernyataan default benar-benar tidak dapat dibenarkan.
BACA JUGA:Zelensky Tetapkan Batas Waktu untuk Akhiri Perang Rusia-Ukraina
Dia mengungkapkan bahwa bank perantara telah menahan uang itu dan cadangannya diblokir secara tidak sah.
"Telah melakukan pembayaran pada Mei, dan fakta bahwa itu diblokir oleh Euroclear karena sanksi bukan masalah kami," katanya, dilansir dari BBC, Selasa (28/6/2022).
Sementara itu, Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov mengatakan situasi gagal bayar itu "lelucon" dan situasi itu diperkirakan tidak akan berdampak jangka pendek. Dirinya pun menyangkal default yang biasanya terjadi ketika pemerintah menolak untuk membayar, atau ekonomi mereka sangat lemah sehingga mereka tidak dapat menemukan uang.
"Semua orang yang tahu mengerti bahwa ini sama sekali bukan default. Seluruh situasi ini tampak seperti lelucon," ujarnya.