"Jadi kalau kita lihat AS sebagai mitra dagang yang utama, maka ini akan bisa mempengaruhi neraca perdagangan dalam semester ke II-2022," tuturnya.
Secara total neraca perdagangan mungkin bisa makin menurun.
Kemudian, efek lainnya biaya bahan baku yang diambil dari AS atau dikirim dari AS akan mengalami kenaikan harga.
Kenaikan harga ini nanti akan diteruskan kepada konsumen sehingga ada transmisi inflasi yang tinggi di AS terhadap harga-harga kebutuhan pokok yang ada di Indonesia.
"Ini yang mesti diwaspadai. Kalau inflasi terlalu tinggi tentu efeknya nanti kepada pemulihan ekonomi Indonesia jadi terhambat," paparnya.
Bhima menyarankan, yang perlu dilakukan pemerintah, yakni pertama BI harus menaikan suku bunga.
"Sarannya sih naik sampai 50 basis poin, untuk RDG (Rapat Dewan Gubernur) bulan Juli ini," jelasnya.
Bhima menambahkan kalau yang perlu dilakukan pemerintah adalah menjaga inflasi energi.
Sebab, kontributor terbesar inflasi di AS masih berasal dari harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
"Jadi kita harus bisa menjaga dengan menambah alokasi subsidi dana kompensasi BBM," bebernya.
Ketiga, terkait dengan perdagangan harus dicari pasar-pasar alternatif selain dari AS yang masih prospektif.
Kemudian substitusi impor bahan baku. Satu di antaranya, bahan baku obat-obatan dimana 90 persen bahan baku obat-obatan masih diimpor terutama dari negara-negara maju.
"Nah ini perlu dicari alternatif bahan baku di dalam negeri untuk obat-obatan. Itu bisa mengurangi dampak dari selisih kurs," pungkasnya.
Terakhir, beban utang pemerintah dan utang luar negeri swasta perlu dikendalikan karena efek dari pelemahan nilai tukar terjadi selisih kurs yang bisa membahayakan ekonomi.
"Itu yang harus dijaga," pungkasnya.
(Zuhirna Wulan Dilla)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.