Share

Sri Mulyani Ungkap Milenial Kesulitan Beli Rumah, Begini Fakta di Lapangan

Shelma Rachmahyanti, MNC Media · Minggu 17 Juli 2022 06:10 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 16 470 2630859 sri-mulyani-ungkap-milenial-kesulitan-beli-rumah-begini-fakta-di-lapangan-uoerLLt82X.jpg Beli Rumah (Foto: Okezone)

JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa kebutuhan tempat tinggal di Indonesia yang masih menjadi tantangan.

Sehingga membutuhkan jawaban luar biasa dari semua stakeholder.

Berikut fakta Sri Mulyani ungkap milenial kesulitan beli rumah yang dirangkum di Jakarta, Minggu (17/7/2022).

1. Persoalan dari Supply dan Demand Side

Menurut Sri Mulyani, persoalan papan Indonesia ada dari supply dan demand side. Supply adalah yang memproduksi dan membangun rumah, demand itu adalah yang membutuhkan rumah.

"Pasar hanya bisa tercipta kalau dua sisi ini bertemu, tapi kalau ada constraint, mereka tidak ketemu, atau bertemu di level equilibrium yang tidak mencerminkan kebutuhan papan," ujar Sri dalam Webinar Road to G20 - Securitization Summit 2022 Day 1 di Jakarta, Rabu (6/6/2022).

2. Pilih Tinggal di Mertua atau Sewa

Bahkan, backlog perumahan tercatat sebesar 12,75 juta.

"Itu artinya, yang antre membutuhkan rumah apalagi Indonesia demografinya masih relatif muda, generasi muda ini akan berumah tangga, membutuhkan rumah, tapi tidak bisa afford mendapatkan rumah. Purchasing power mereka dibandingkan harga rumahnya lebih tinggi, sehingga mereka akhirnya end-up tinggal di rumah mertua, atau dia nyewa. Itu pun kalau mertuanya punya rumah juga, kalau ga punya rumah, itu juga jadi masalah lebih lagi, menggulung per generasi," ungkap Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

3. Ada Masalah dari Sisi Supply

Terlebih saat ini, kata Sri Mulyani, dari sisi supply juga ada masalah. Harga tanah selalu ever-increasing, terutama di perkotaan dan bahan-bahan baku perumahannya.

Kontribusi sektor perumahan, sambung Sri, kontribusi dan sharenya terhadap APBN cukup signifikan, apalagi ditambah dengan aspek penciptaan kesempatan kerja.

"Dia punya multiplier effect yang besar dan juga share-nya terhadap PDB di atas 13%. Namun, ini belum klop. Kita punya gap antara demand dengan purchasing power, itu namanya harap-harap cemas. If you can exercise your demand, it means you have purchasing power. Saya bermimpi punya rumah dan saya berencana punya rumah, keduanya berbeda, mimpi ya mimpi, kalau berencana ya berarti sudah ada daya belinya untuk mengeksekusi rencananya," terang Sri.

4. Pemerintah Beri Berbagai Kebijakan

Maka dari itu, menjembatani gap tersebut menjadi langkah penting bagi pemerintah. Dari sisi Kemenkeu, telah diberikan berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah menggunakan instrumen keuangan negara.

"Pertama, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) ditanggung pemerintah, atau pembebasan PPN dan pengenaan PPN 1% final untuk rumah sederhana dan sangat sederhana. Itu adalah instrumen yang kita gunakan dalam situasi pandemi untuk melindungi dan memberikan stimulus bagi sektor perumahan agar tidak terpukul sangat dalam oleh dampak pandemi," tambah Sri.

5. Respons Konsultan

Konsultan Properti Knight Frank Indonesia melaporkan terjadi kenaikan harga rumah pada tahun ini. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah inflasi yang merangkak naik.

Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat menyatakan bahwa harga rumah setiap tahun memang meningkat. Namun pada tahun ini harga rumah juga ditambah dengan kenaikan harga material pembangunan.

"Memang rerata kenaikan harga rumah yang terus meningkat, di kisaran 2% tahun ini dan ditambah kenaikan harga material bangunan menjadikan tantangan tersendiri untuk generasi muda memiliki rumah," ujar Syarifah dalam pernyataan tertulisnya kepada MNC Portal, Senin (11/7/2022).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini