Share

Ekonomi AS Terancam Resesi, Indeks Dolar Melemah

Shelma Rachmahyanti, MNC Media · Jum'at 29 Juli 2022 07:17 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 29 320 2638219 ekonomi-as-terancam-resesi-indeks-dolar-melemah-f7Lbh0kItt.jpg Indeks Dolar AS melemah (Foto: Ilustrasi Reuters)

JAKARTA – Indeks dolar AS melemah terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB). Dolar melemah setelah data menunjukkan ekonomi Amerika Serikat (AS) mengalami kontraksi untuk kuartal kedua berturut-turut dan mendekati ancaman resesi.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,09% menjadi 106,3490, demikian dilansir Antara, Jumat (29/7/2022).

Dolar jatuh ke level terendah enam minggu terhadap yen pada Kamis (28/7/2022), mengikuti penurunan imbal hasil obligasi pemerintah, membukukan%tase penurunan harian terbesar terhadap yen sejak pertengahan Maret 2020.

Di pasar obligasi pemerintah AS, imbal hasil dua tahun, yang mencerminkan ekspektasi suku bunga, turun ke level terendah tiga minggu dari puncaknya pada Rabu (27/7/2022) setelah merosot 24 basis poin.

Pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi USD1,0178 dari USD1,0198 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi USD1,2148 dari USD1,2166 pada sesi sebelumnya. Dolar Australia turun menjadi USD0,6975 dari USD0,7000.

Dolar AS dibeli 134,33 yen Jepang, lebih rendah dari 136,48 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,9552 franc Swiss dari 0,9593 franc Swiss, dan turun menjadi 1,2822 dolar Kanada dari 1,2834 dolar Kanada.

Baca Juga: BuddyKu Fest: 'How To Get Your First 10k Follower'

Follow Berita Okezone di Google News

Produk Domestik Bruto (PDB) AS menyusut pada tingkat tahunan 0,9% pada kuartal kedua setelah mengalami kontraksi 1,6% pada kuartal sebelumnya, Departemen Perdagangan AS melaporkan Kamis (28/7/2022). Para ekonom yang disurvei oleh The Wall Street Journal memperkirakan kenaikan 0,3% dalam PDB kuartal kedua.

Sementara itu pengeluaran konsumen tumbuh pada laju paling lambat dalam dua tahun dan pengeluaran bisnis berkontraksi, meningkatkan risiko bahwa ekonomi berada di puncak resesi.

Menteri Keuangan AS Janet Yellen pada Kamis (28/7/2022) tidak mengesampingkan kemungkinan resesi, tetapi menolak untuk mengakui bahwa resesi sedang berlangsung setelah dalam dua kuartal PDB mengalami kontraksi - definisi singkat yang sering digunakan oleh para ekonom, jurnalis, dan analis pasar.

"PDB yang lemah jelas menunjukkan ekonomi yang melambat. Kami pikir inflasi yang lebih lemah akan mengikuti pertumbuhan yang lebih lemah," kata Ahli Strategi Valas UBS, Vassili Serebriakov, di New York.

"Begitu itu terjadi, pasar akan melihat akhir dari siklus pengetatan dan itu mungkin akan merugikan dolar terutama terhadap yen," dia menambahkan.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini