Share

Janet Yallen hingga The Fed Tak Akui AS Resesi, Investor Waspada!

Wahyudi Aulia Siregar, Okezone · Jum'at 29 Juli 2022 19:23 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 29 320 2638777 janet-yallen-hingga-the-fed-tak-akui-as-resesi-investor-waspada-UiUTTXFga3.png Ekonomi AS Resesi. (Foto: Okezone.com/Reuters)

MEDAN - Pelaku pasar diingatkan untuk waspada agar tak merugi di tengah resesi Amerika Serikat (AS). Kinerja pasar keuangan domestik yang membaik pun tetap harus diwaspadai.

Pengamat Pasar Keuangan, Gunawan Benjamin menjelaskan, Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The FED) sudah menaikkan besaran bunga acuan 75 basis poin. Kondisi itu diperburuk dengan realisasi pertumbuhan ekonomi AS yang mengalami kontraksi sebesar 0.9% pada kuartal kedua tahun ini.

Bahkan realisasi pertumbuhan ekonomi AS yang minus tersebut, sangat jauh berbeda dari ekspektasi banyak ekonom sebelumnya yang justru memperkirakan ekonomi AS masih akan tumbuh.

Baca Juga: AS Resesi, Begini Dampak Besar ke Perekonomian RI

"Dari data tersebut jelas sekali bahwa AS benar-benar dalam resesi. Namun, pasar keuangan global justru seakan menghiraukan resesi tersebut," kata Gunawan, Jumat (29/7/2022).

Resesi di AS, sebut Gunawan, juga dibantah oleh sejumlah pejabat sektor keuangan negeri Paman Sam. Seperti Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral AS yang masih yakin bahwa AS belum akan mengalami resesi.

Secara fundamental, perlambatan ekonomi yang terjadi seperti di AS ini akan memengaruhi kinerja ekonomi di negara lainnya termasuk Indonesia. Negara-negara lain tengah berhadapan pada sejumlah masalah ekonomi serius seperti ancaman inflasi tinggi, perang yang belum berkesudahan, kenaikan suku bunga acuan hingga kenaikan harga energi.

Baca Juga: AS Alami Resesi, Indonesia Perlu Hati-Hati

Bahkan IMF sendiri memperkirakan bahwa ekonomi dunia di tahun mendatang akan lebih buruk dibandingkan dengan realisasi tahun ini. Padahal tahun ini saja pertumbuhan ekonomi dunia termasuk di Indonesia terus direvisi kebawah.

"Nah kinerja pasar keuangan yang membaik justru menyisakan pertanyaan besar. Sejauh ini apa yang terjadi tidak memperlihatkan kondisi fundamental sebenarnya. Memang ada rilis kinerja sejumlah emiten di bursa yang bisa mendorong kenaikan kinerja indeks saham. Tetapi itu semua bukanlah cerminan kondisi ekonomi saat ini dan di masa yang akan datang," jelas Gunawan.

Untuk kinerja IHSG, terang Gunawan, dalam sepekan terakhir, IHSG hanya terkoreksi di awal pekan dan di akhir pekan. IHSG ditutup melemah di akhir pekan sebesar 0.082% di level 6.951,12.

Sementara itu, mata uang Rupiah mampu menguat selama sepekan terakhir dan di akhir pekan Rupiah ditransaksikan di level 14.854 per US Dolar. Sementara itu harga emas juga terpantau naik di level USD1.763 per ons troy.

"Namun saya menggaris bawahi bahwa kinerja pasar keuangan saat ini tidak ditopang oleh fundamental ekonomi yang kuat. Pasar keuangan sangat rapuh dan rawan koreksi," pungkasnya.

Memang sejauh ini, kata Gunawan, ada ekspektasi dimana agresifitas The FED dalam menaikkan bunga acuan mulai mengendur. Tetapi hal tersebut tidak menutup masalah utama, yakni ekonomi dunia tengah dalam tekanan serius dan terancam resesi.

"Kinerja pasar keuangan yang membaik saat ini saya pikir lebih seperti sebuah jebakan," tukasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini