Share

Ekonomi RI Diprediksi Terus Tumbuh, Bansos hingga Subsidi BBM Jaga Daya Beli Masyarakat

Iqbal Dwi Purnama, Okezone · Senin 08 Agustus 2022 13:52 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 08 320 2643953 ekonomi-ri-diprediksi-terus-tumbuh-bansos-hingga-subsidi-bbm-jaga-daya-beli-masyarakat-56lxDWwnQ6.JPG Pertumbuhan ekonomi RI. (Foto: Freepik)

JAKARTA - Ekonom Senior INDEF (Institute for Development of Economics and Finance) Didin S. Damanhuri mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini masih mampu tumbuh positif.

Bahkan menurutnya ekonomi Indonesia pada tahun 2022 ini bisa tumbuh bekisar 5,55% - 5,8%.

Namun ada beberapa catatan penting untuk pemerintah untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang positif tersebut.

Menurutnya, pencatatan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di dominasi oleh sektor konsumsi masyarakat yang mana juga dibantu oleh subsidi melalui bansos maupun energi.

 BACA JUGA:Ekonomi RI Tumbuh 5,44%, Erick Thohir Singgung Peran BUMN

"Memang sumbangan dari konsumsi masyarakat harus tetap dijaga dengan daya beli yang kuat melalui Subsidi bansos maupun energi," ujar Didin dalam Market Review IDX Channel, Senin (8/8/2022).

"Ini efektif menopang dari konsumsi masyarakat, dimana terbukti bahwa pengeluaran masyarakat paling tinggi," sambungnya.

Dia menyebut hal tersebut harus diseimbangkan oleh realisasi investasi di Indonesia.

Sehingga jika realisasi investasi di Indonesia sudah berjalan.

"Sehingga nanti kalau terjadi keseimbangan, dimana sumbangan dari industri manufaktur juga naik signifikan yang berasal Investasi, dengan konsumsi masyarakat yang meningkat, maka saya kira ini pertumbuhan ekonomi akan mencapai diatas mencapai 5,44 di 2022, dugaan kami antar 5,55 - 5,8%," paparnya.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

Dia menambahkan yang paling penting dan harus dicermati oleh Pemerintah adalah jangan sampai terbuai oleh gangguan fiskal.

Misalnya pendanaan pada proyek-proyek yang tidak penting atau seharusnya tidak prioritas.

"Kalau Reform itu tidak dilakukan malah bisa kurang dari 5%, ini harus dipertimbangkan seperti semacam godaan untuk proyek besar yang belum prioritas, memang menyangkut beberapa pihak," ucapnya.

Karena anggaran tersebut sebenarnya bisa dialokasikan untuk keperluan lain misalnya untuk menguatkan daya beli masyarakat, yang mana terbukti menjadi sektor penyumbang dalam pertumbuhan ekonomi.

"Ini bisa mengganggu kinerja pertumbuhan ekonomi," lanjutnya.

Selanjutnya, dia meminta pemerintah juga harus mampu memitigasi ketika misal terjadi penurunan harga komoditas yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian seperti batu bara dan sawit.

"Kemudian selanjutnya adalah Inflasi, akibat dari adanya perang Rusia - Ukraina, ini harus menjadi perushaan karean kita mengimpor bahan pangan selama ini," lanjutnya.

"Belum lagi inflasi impor, terutama pangan, dan bahan industri, itu akan bisa memacu inflasi yang tinggi, ini harus bisa diwaspadai dengan strategi yang tepat," pungkasnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini