Dalam kesempatan ini, dia sangat berterima kasih dan memberikan apresiasinya kepada Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sebagai pelopor gerakan ini.
"Alhamdulillah sinergi pemerintah dengan BI, berbagai lembaga, dan pemerintah daerah sangat baik sehingga ekonomi kita bisa tumbuh sangat tinggi 5,44%, tapi ini belum pulih. Karena rakyat baru mulai bisa makan enak setelah Ramadhan kemarin, sebelumnya belum bisa makan enak karena ada pandemi Covid-19," ungkapnya.
Dia mengatakan angka 5,44% tersebut patut disyukuri, apalagi raksasa ekonomi dunia seperti China tahun ini hanya tumbuh 3,3%.
Negara-negara lain pun tumbuhnya lebih rendah.
"Yang menjadi masalah adalah inflasi. Inflasi kita sudah hampir mencapai 5%, masih lebih rendah dari negara lain tadi, tapi kalau kita lihat, inflasi paling tinggi jika dipecah adalah dari inflasi pangan, 10,47%. Mestinya inflasi pangan itu tidak boleh lebih dari 5%, atau paling tinggi 6%. Ingat, inflasi pangan itu adalah masalah perut, masalah rakyat. Ini bukan masalah ekonomi saja, tapi masalah sosial dan masalah bagaimana nanti seterusnya jangan sampai ada masalah politik. Jadi mohon inflasi ini, layaknya kita menjaga kemerdekaan, jangan sampai daya beli masyarakat itu turun karena inflasinya, kita harus turunkan paling tidak, jadi 5%," pungkasnya.
(Zuhirna Wulan Dilla)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.