Share

Investasi Hulu Migas RI Mandek, Ini Biang Keroknya

Rizky Fauzan, MNC Portal · Jum'at 19 Agustus 2022 09:21 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 19 320 2650466 investasi-hulu-migas-ri-mandek-ini-biang-keroknya-xFLYaE9hyU.jpg Investasi Hulu Migas Tak Bergerak dari Tahun ke Tahun. (Foto:Okezone.com/SKK Migas)

JAKARTA - Revisi Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi (Migas) diyakini dapat mendorong investasi sektor hulu migas yang cenderung tak bergerak dari tahun ke tahun.

Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro menyampaikan, iklim investasi di sektor hulu migas cenderung tak mengalami peningkatan. Dia memaparkan sejumlah riset yang dilakukan lembaga internasional.

"Kalau kita lihat survei Fraser Institute dari waktu ke waktu ini mengindikasikan bahwa tingkat kondusivitas investasi di Indonesia tidak bergerak untuk di hulu migas. Jadi relatif berada di peringkat mendekati akhir," kata Komaidi dalam diskusi webinar: Capaian dan Tantangan Satu Tahun Blok Rokan oleh Pertamina Hulu Rokan, Jumat (19/8/2022).

Baca Juga: Eksplorasi ke Seluruh Wilayah RI demi 'Harta Karun' Baru

"Artinya bahwa ketertarikan pihak lain pelaku usaha yang sebelumnya cukup antusias, satu persatu meninggalkan," tambahnya.

Komaidi menuturkan, sebagai contoh, Shell yang hengkang dari Blok Abadi Masela setelah melakukan eksplorasi. Kemudian, wacana IDD yang akan dilakukan oleh Chevron yang tak kunjung ada kepastiannya.

Di samping itu, ada pula Indeks Kondusivitas Investasi dari Bank Dunia yang menunjukkan kecenderungan tak bergerak. Lalu, dikuatkan Fraser Institute di sektor hulu minyak dan gas bumi.

Baca Juga: Indonesia Punya 'Harta Karun' Triliunan Rupiah, Bisa Buat Bayar Utang?

Dia menuturkan, rampungnya revisi Undang-undang tentang Minyak dan Gas Bumi bisa mengambil peran. Utamanya soal regulasi dan kepastian investasi pengusaha sektor energi.

"Revisi Undang-Undang Migas, yang jadi payung hukum tertinggi di dalam konteks berusaha migas di Indonesia sudah dimulai sejak 2008 berdasarkan saran dari panitia hak angket BBM waktu itu, sampai sekarang 2022 mau selesai saya kira sudah 10 tahun lebih yang belum diselesaikan," tutur dia.

"Ini saya kira juga memberikan kontribusi signifikan kenapa investasi migas kita menjadi relatif tidak bergerak," tambahnya.

Sementara itu, anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha membeberkan beberapa kontrak blok Migas yang habis. Ini berarti juga mempengaruhi salah satunya tujuan produksi migas di 2030 dengan 1 juta barel minyak per hari.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Di antaranya, Wilayah Kerja (WK) Tarakan meliputi Perpanjangan kontrak bagi hasil dengan PT MedcoE&P Taraan, berlaku efektif per 14 Januari 2022. Kemudian, WK Coastal Plains Pekanbaru meliputi PT Bumi Siak Pusako (BUMD) mengambil alih 100 persen Blok CPP per 9 Agustus 2022.

Lalu, WK Tungkal meliputi Kontrak bagi hasil WK Tungkal dengan Kontraktor Montd'or Oil Tungal, Ltd. (operator) dan Fuel-X Tungkal Ltd, berlaku efektif 26 Agustus 2022.

"Serta, WK Sengkang meliputi Perpanjangan kontrak per 24 OKtober 2022 dengan 49 persen participatinng interest milik PT Energi Maju Abadi (EMA) dan 51 persen participating interrest milik Energy Equity Epic (sengkang) Pty Ltd (EEES)," kata dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini