Share

Ekspor Capai USD27,9 Miliar, Neraca Perdagangan Cetak Sejarah Ekonomi RI

Advenia Elisabeth, MNC Portal · Minggu 18 September 2022 15:21 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 18 320 2669929 ekspor-capai-usd27-9-miliar-neraca-perdagangan-cetak-sejarah-ekonomi-ri-bMqIgda6T4.jpg Neraca Perdaganga RI Surplus 28 Bulan Berturut-turut. (Foto: Okezone.com/Pelindo)

JAKARTA - Ekspor Indonesia mencapai USD27,91 miliar pada Agustus 2022. Kinerja positif tumbuh kuat sebesar 30,15% year on year (yoy) dan 9,17% mont to month (mtm). Ekspor ini tercatat sebagai ekspor tertinggi sepanjang masa.

Secara kumulatif, nilai ekspor dan neraca perdagangan Januari hingga Agustus 2022 masing-masing tercatat sebesar USD194,6 miliar dan USD34,9 miliar. Keduanya merupakan rekor tertinggi dalam sejarah ekonomi Indonesia.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu meyakini tingginya nilai ekspor ini akan semakin memperkuat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Baca Juga: Neraca Perdagangan RI Surplus 28 Bulan Berturut-turut

"Ditambah dengan konsumsi masyarakat yang diharapkan akan terus menguat seiring semakin terkendalinya pandemi yang bahkan telah dideklarasikan hampir selesai oleh WHO, serta pengeluaran pemerintah yang juga meningkat di tengah penyaluran berbagai program seperti bantuan sosial, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2022 diperkirakan akan sesuai atau bahkan melebihi target pemerintah," jelasnya dalam keterangan resmi yang dikutip MNC Portal Indonesia, Minggu (18/9/2022).

Lebih lanjut, Febrio mengungkapkan, peningkatan eskpor Indonesia pada Agustus 2022 didorong oleh ekspor migas yang masih tumbuh sangat tinggi mencapai 64,46% (yoy). Sementara itu, ekspor non migas juga mencatatkan pertumbuhan yang mencapai 28,39% (yoy).

Dari sisi sektoral, sektor pertambangan mencatatkan pertumbuhan tertinggi mencapai 63,17% (yoy), disusul pertanian yang tumbuh 31,17% (yoy) dan manufaktur yang tumbuh mencapai 20,61% (yoy).

Baca Juga: Deretan Impor Indonesia Selama Agustus 2022

“Capaian ini mencerminkan bahwa Indonesia masih menikmati keuntungan dari adanya kenaikan harga komoditas. Selain itu, pertumbuhan manufaktur juga mengindikasikan bahwa aktivitas ekonomi Indonesia yang bernilai tambah tinggi semakin meningkat. Ke depan, meskipun di tengah risiko seperti perlambatan ekonomi Tiongkok, ekspor diperkirakan melanjutkan kinerja yang baik dari bulan sebelumnya," sambung Febrio.

Sementara itu, impor Indonesia masih mencatatkan kinerja positif mencapai USD22,15 miliar dengan pertumbuhan 32,81% (yoy) dan 3,77% (mtm).

Selayaknya ekspor, Febrio bilang kinerja impor ini juga merupakan capaian paling tinggi dari yang pernah terjadi. Tumbuhnya impor antara lain didukung oleh kinerja sektor manufaktur yang tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada bulan Agustus 2022 yang terus melanjutkan ekspansi.

Untuk diketahui, peningkatan ekspor Indonesia di bulan Agustus 2022 didorong oleh ekspor migas yang masih tumbuh sangat tinggi mencapai 64,46% yoy.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Sementara itu, ekspor non migas juga mencatatkan pertumbuhan yang mencapai 28,39% yoy. Dari sisi sektoral, sektor pertambangan mencatatkan pertumbuhan tertinggi mencapai 63,17% yoy, disusul pertanian yang tumbuh 31,17% yoy dan manufaktur yang tumbuh 20,61% yoy.

Febrio bilang, pencapaian tersebut mencerminkan bahwa Indonesia masih menikmati keuntungan dari adanya kenaikan harga komoditas. Selain itu, pertumbuhan manufaktur juga mengindikasikan bahwa aktivitas ekonomi Indonesia yang bernilai tinggi semakin meningkat.

"Ke depan, meskipun di tengah risiko seperti perlambatan ekonomi Tiongkok, ekspor diperkirakan melanjutkan kinerja yang baik dari bulan sebelumnya," ucapnya.

Berkaca dari hal itu, Febrio meyakini bahwa ekspor masih akan melanjutkan kinerja yang baik ke depannya jika dibandingkan bulan sebelumnya.

Oleh karena itu, APBN akan terus digunakan agar dapat menopang kinerja ekspor dalam konteks memperkuat pemulihan ekonomi pasca pandemi.

Adapun salah satu kebijakan yang diharapkan dapat mendorong adalah kebijakan penerimaan negara yang diarahkan mengurangi beban eksportir produk sawit dan turunannya.

"Pemerintah akan terus mewaspadai dan memitigasi dampak risiko global terhadap kinerja ekspor secara menyeluruh, misalnya dengan terus memonitor perkembangan kebijakan perdagangan internasional terkait komoditas strategis Indonesia," tutup Febrio.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini