pedagang mengaku bisa kapan pun mendapatkan barang yang diinginkan.
“Kami hampir tiap hari buka bal-balan, mau booking juga ada setiap hari,” kata Nia.
Pedagang lain bernama Yeti menyebut biasa membeli beberapa bal pakaian bekas impor dua kali sepekan.
“Kalau laku, ya, kami beli lagi. Di gudang-gudang itu, standby terus barangnya. Bahkan sekarang semakin menjamur gudangnya,” ucapnya.
Dia mengungkapkan bisnis pakaian bekas impor menggiurkan sebab keuntungannya yang relatif besar. Berdasarkan pengalamannya selama lima tahun, Yati bisa balik modal hanya dengan menjual 20% dari sekitar dua ratus helai pakaian bekas impor yang dibelinya.
Dia pun merupakan spesialis menjual jaket, mengeluarkan modal sekitar Rp6 juta untuk membeli satu bal jaket bekas.
Dia bisa balik modal dengan menjual sebanyak 40 lembar jaket.
“Dalam satu bal jaket, isinya memang 10% sudah pasti bermerek. Ada yang baru, ada yang kondisi 80%. Rata-rata dalam satu bal itu, 20% terjual, sudah balik modal," tuturnya.
Dia menerangkan alasan pakaian dalam bekas pun laku dijual di Pasar Cimol, dan pedagang merogoh modal lebih besar untuk membelinya.
“Kenapa lebih mahal dari pakaian lain, karena dalam satu bal jumlahnya bisa ribuan pieces. Di dalamnya ada celana dalam pria dan wanita, bra, long torso, atau kemben. Harga jualnya bervariasi dari Rp5.000 sampai ratusan ribu per helai, tergantung kualitas dan merek,” bebernya.
Untuk bisnis ini juga menggiurkan bagi para importir. Jika importir membeli satu pack yang isinya kurang lebih 250 bal dengan harga Rp800 juta hingga Rp900 juta per pack, lalu dijual kepada pedagang sekitar Rp10 juta per bal, keuntungannya bisa miliaran.
“Jadi kenapa mereka berani [melanggar aturan], karena memang menggiurkan bisnisnya,” ungkapnya.
Yeti juga menyebutkan pakaian bekas itu dikirim dari arah perbatasan Singapura dan Malaysia dengan kapal tongkang melalui Batam dan Kalimantan.
“Sekarang lebih canggih lagi. Istilahnya kucing-kucingan, di mana pelabuhan yang sepi di situlah mereka masuk. Jadi posnya tidak hanya satu,” katanya.
Dia meneceritakan jika barang akan dikirim langsung ke Pasar Cimol, tapi seiring dengan banyaknya kasus impor pakaian bekas yang diungkap, diketahui bongkar muat juga dilakukan di luar wilayah Gedebage.
“Kami pedagang tinggal membeli di tempat,” lanjutnya.
Kemudian, Nia ikut menceritakan kalau dia membayar Rp14 juta untuk satu bal pakaian bekas impor, yang di dalamnya ada sekitar 350 lembar baju perempuan.
Dia mengatakan dapat menjual pakaian yang kualitasnya masih bagus seharga Rp250.000, sedang kualitas rendah dan menengah dijual antara Rp15.000 hingga Rp150.000.
Plt. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Veri Anggrijono pun buka suara soal pakaian impor ilegal ini.
Dia membenarkan bahwa impor pakaian bekas ilegal semakin marak dan sulit diberantas.
“Masih diminati oleh masyarakat karena harga yang murah,” katanya.
Dia tidak menyebut barang bermerek sebagai daya tarik, tapi kenyataan di lapangan mengukuhkan anggapan itu. Seperti yang diakui oleh Rukiahati Ginting, mantan pedagang Pasar Cimol.
Lalu, dia memaparkan pakaian bekas yang berasal dari sejumlah negara dikumpulkan dan dikirim dari negara tetangga Indonesia.
“Walaupun kami lihat [barangnya] berasal dari negara lain, tapi masuknya dari negara tetangga terdekat. Masuk dari pintu-pintu pelabuhan-pelabuhan tikus dari negara tetangga kita,” terangnya.
Untuk pelabuhan-pelabuhan tikus tersebut berada di berbagai wilayah, antara lain Sumatra, Tembilahan, Riau, dan beredar sampai ke Pulau Jawa melalui jalur darat.