Share

Harga Minyak Turun 1,5%, Brent Dibanderol USD90/Barel

Antara, Jurnalis · Rabu 21 September 2022 07:28 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 21 320 2671687 harga-minyak-turun-1-5-brent-dibanderol-usd90-barel-VD2tICtSiK.jpg Harga Minyak Mentah Turun. (Foto: Okezone.com/Reuters)

JAKARTA - Harga minyak menurun di akhir perdagangan Selasa. Harga minyak mengikuti aset-aset berisiko lainnya yang lebih rendah, karena dolar lebih kuat dan investor mengantisipasi lebih banyak kenaikan suku bunga Bank Sentral AS.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November kehilangan USD1,38 atau 1,5% menjadi USD90,62 barel di London ICE Futures Exchange. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober turun USD1,28 atau 1,5% menjadi USD84,45 per barel di New York Mercantile Exchange di hari terakhir masa kontraknya.

Baca Juga: Jika Beli Minyak Rusia, Ini Konsekuensi yang Harus Ditanggung RI

Sementara itu, kontrak November yang lebih aktif turun USD1,42 menjadi 83,94 per barel.

Baik Brent mapun WTI berada di jalur penurunan kuartalan terburuk dalam persentase sejak awal pandemi Covid-19. Brent mencapai sekitar USD139 per barel pada Maret, merupakan level tertinggi sejak 2008.

Federal Reserve AS kemungkinan menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin pada hari ini, untuk mengendalikan inflasi. Ekspektasi tersebut membebani ekuitas, yang sering bergerak seiring dengan harga minyak. Bank sentral lainnya, termasuk Bank Sentral Inggris, juga akan bertemu minggu ini.

Baca Juga: Harga Minyak Melonjak 4%, Brent Dibanderol USD92/Barel

Suku bunga yang lebih tinggi telah mendukung dolar, yang tetap mendekati level tertinggi dua dekade terhadap mata uang lainnya pada Selasa (21/9/2022), membuat minyak lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

"Pasar minyak terjebak di antara kekhawatiran turun dan harapan naik. Kekhawatiran didorong oleh pengetatan moneter yang agresif di AS dan Eropa, yang meningkatkan kemungkinan resesi dan mungkin membebani prospek permintaan minyak," kata Analis Komoditas UBS Giovanni Staunovo, dikutip dari Antara, Rabu (21/9/2022).

Pasar minyak juga bereaksi terhadap konsumsi yang lemah dari Amerika Serikat dan China. Pengemudi di Amerika Serikat mengemudi lebih sedikit pada Juli dibandingkan bulan sebelumnya, penurunan bulanan kedua berturut-turut, karena harga bensin yang tinggi. Harga bensin eceran telah mundur dari puncaknya karena permintaan telah turun.

Stok minyak mentah AS diperkirakan telah meningkat minggu lalu sekitar 2 juta barel, jajak pendapat Reuters menunjukkan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini