Share

Rupiah Anjlok ke Rp15.200/USD, BI Sebut Masih Lebih Baik Dibanding Negara Lain

Michelle Natalia, Sindonews · Minggu 02 Oktober 2022 06:44 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 02 320 2678977 rupiah-anjlok-ke-rp15-200-usd-bi-sebut-masih-lebih-baik-dibanding-negara-lain-64dW559hQV.JPG Bank Indonesia soal rupiah melemah. (Foto: MPI)

BALI - Nilai tukar rupiah tercatat mengalami depresiasi sejak awal tahun ini.

Bank Indonesia (BI) mendata bahwa hingga 30 September 2022, rupiah telah terdepresiasi hingga 6,4% dibandingkan akhir 2021.

Secara bulanan di 30 September pula, rupiah terdepresiasi 2,24% dibandingkan akhir Agustus 2022.

Namun, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Wahyu Agung Nugroho mengatakan bahwa bukan hanya rupiah yang mengalami pelemahan di tengah mengetatnya moneter global.

 BACA JUGA:Rupiah Anjlok ke Rp15.200/USD, Apa Kata BI?

"Kondisi rupiah masih lebih baik dibanding negara-negara lain, bahkan Rupee India terdepresiasi 8,65%, Ringgit Malaysia 10,16%, dan Thailand 11,36%," ungkap Wahyu dalam pelatihan media Bank Indonesia di Ubud, Bali, Sabtu (1/10/2022).

Rupiah, sebut Wahyu, saat ini masih didukung oleh pasokan valas domestik dan persepsi positif terhadap prospek perekonomian domestik.

Tak hanya itu saja, BI terus meluncurkan langkah-langkah stabilisasi.

"Ke depan, BI terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya untuk mendukung upaya pengendalian inflasi dan stabilitas makro ekonomi," paparnya.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

Alasan melemahnya Rupiah ini terutama disebabkan oleh indeks dolar Amerika Serikat (AS) atau DXY yang masih menguat.

BI mencatat indeks dolar berada pada level 112,25 pada 29 September 2022, meningkat dari level akhir minggu lalu di 111,35.

"Yang memicu DXY menguat adalah ekspektasi pelaku pasar keuangan global yang mau cari aman. Mereka melakukan risk off, menarik dananya atau tidak mau menaruh dananya di negara berkembang, dan lebih memilih menempatkan dananya dalam bentuk dolar," ujar Wahyu.

Hal ini kemudian menimbulkan berbagai tekanan tambahan di pasar keuangan domestik berbagai negara, bahkan Indonesia menjadi salah satu yang terdampak risk off ini.

"Meskipun begitu, BI selalu mengamati pasar dan berupaya sehingga rupiah tidak terdepresiasi terlalu dalam. Ini kami lakukan dengan bauran kebijakan, intervensi di pasar, baik itu pasar spot ataupun melalui Domestic Non Deliverable Forward (DNDF)," terangnya.

Dia menekankan bahwa pelaku keuangan di Indonesia tidak perlu terlalu khawatir dengan pelemahan Rupiah, karena pelemahan ini lebih didominasi oleh tekanan eksternal.

Bahkan, Wahyu meyakini bahwa depresiasi ini tidak akan berpengaruh banyak terhadap ekonomi domestik, karena proyeksi pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2022 diramalkan menguat hingga kisaran 5,5%, lebih tinggi dibandingkan 5,44% di kuartal II-2022.

"Memang yang menjadi masalah, Indonesia itu tergolong sebagai small open economy, sehingga Indonesia sendiri tidak punya pilihan selain merespons. Siapa yang salah, siapa yang menanggung risikonya, itu beda hal," pungkasnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini