Share

Baru Pulih Usai Pandemi Covid-19, Ekonomi RI Kini 'Dihantui' Resesi 2023

Michelle Natalia, Sindonews · Minggu 02 Oktober 2022 10:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 02 320 2678985 baru-pulih-usai-pandemi-covid-19-ekonomi-ri-kini-dihantui-resesi-2023-4xtPM4GRZS.JPG Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bali, Gusti Agung Diah Utari. (Foto: MPI)

BALI - Perekonomian Bali saat ini mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang lebih baik dibandingkan tahun lalu, tetapi belum sepenuhnya lepas dari imbas pandemi Covid-19.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali Gusti Agung Diah Utari mengungkapkan bahwa dirinya mengkhawatirkan dampak dari resesi global yang diramalkan terjadi tahun depan.

Hal itu karena kemungkinan besar akan menghantam perekonomian Bali yang belum sepenuhnya bangkit.

 BACA JUGA:Ekonomi Indonesia Diprediksi Tumbuh 5% pada 2023

"Saat ini, ekonomi Bali masih didominasi oleh sektor pariwisata, yang berarti masih bergantung pada wisatawan, baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Kalau resesi terjadi, ini pasti akan berdampak besar terhadap perekonomian Bali," ujar Utari dalam pelatihan media BI di Ubud, Bali, Sabtu(1/10/2022).

Dia mengatakan bayang-bayang inflasi yang meningkat, perlambatan ekonomi global, dan pasar keuangan yang masih tidak pasti akan berimbas pada potensi kedatangan para wisatawan.

"Hingga September 2022, jumlah kedatangan wisatawan mancanegara mencapai 1,1 juta orang. Angka ini masih lebih sedikit dibandingkan kedatangan wisatawan domestik yang mencapai 2,7 juta orang," tambah Utari.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, jumlah wisatawan mancanegara pada Juli 2022 tercatat sebanyak 246.504 kunjungan, naik 35,72% dibandingkan periode Juni yang tercatat sebanyak 181.625 kunjungan (month-to-month/mtm).

Baca Juga: BuddyKu Fest: Challenges in Journalist and Work Life Balance Workshop

Follow Berita Okezone di Google News

Wisatawan yang berasal dari Australia mendominasi kedatangan wisman ke Bali di bulan Juli 2022 dengan porsi sebesar 32,19%.

Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada bulan Juli 2022 tercatat sebesar 37,52%, turun sedalam 1,25 poin jika dibandingkan dengan bulan Juni 2022 (mtm).

Sementara TPK pada Juli 2022 jika dibandingkan dengan bulan Juli 2021 (yoy) yang mencapai 5,23%, tingkat penghunian kamar pada bulan Juli 2022 tercatat naik 32,29 poin. TPK hotel nonbintang tercatat sebesar 20,93%, naik 3,52 poin (mtm) dibandingkan bulan Juni 2022.

Rata-rata lama menginap tamu asing dan domestik pada hotel berbintang di Bali pada bulan Juli 2022 tercatat 2,05 hari, turun 0,10 poin dibandingkan dengan capaian 2,15 hari di Juni 2022.

Jika dibandingkan dengan capaian bulan Juli 2021 (yoy) yang tercatat 1,92 hari, rata-rata lama menginap Juli 2022 naik 0,13 poin.

Sementara itu, untuk hotel non bintang, rata-rata lama menginap di bulan Juli 2022 tercatat sebesar 2,042 hari, naik 0,003 poin (mtm) dibandingkan bulan Juni 2022 yang tercatat sebesar 2,039 hari.

Dia menyebutkan bahwa Bali sendiri mulai bertransformasi ekonomi untuk menjadi Bali yang tangguh, hijau, dan sejahtera di tahun 2045. Untuk jangka pendek, pemulihan ekonominya masih bertumpu pada sektor pariwisata.

"Dalam jangka panjang, akan ada 6 sektor unggulan, yaitu pertanian, kelautan dan perikanan, industri pengolahan branding Bali, IKM, UMKM, dan koperasi, ekonomi kreatif dan digital, serta pariwisata," pungkas Utari.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini