Share

OPEC+ Pangkas Produksi Minyak, SKK Migas Ungkap Keuntungan bagi Indonesia

Rizky Fauzan, MNC Portal · Senin 17 Oktober 2022 17:14 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 17 320 2688848 opec-pangkas-produksi-minyak-skk-migas-ungkap-keuntungan-bagi-indonesia-WsSBKXWW3J.jpg OPEC Berencana Kurangi Produksi Minyaknya. (Foto: Okezone.com/Reuters)

JAKARTA - Negara produsen minyak mentah yang tergabung dalam OPEC+ termasuk Rusia mempertimbangkan mengurangi produksi minyak mentah 2 juta barel per hari (bph). Rencana ini dilakukan untuk menggenjot harga minyak mentah yang akhir-akhir turun.

Menyikapi rencana tersebut, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menilai akan adanya peluang investasi dari kebijakan OPEC+, yang memangkas produksi minyak harian menjadi 2 juta barel per hari.

Namun, Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengakui tak memungkiri bahwa kebijakan tersebut memang telah menimbulkan gesekan antar negara, lantaran membuat harga minyak dunia sulit turun.

Baca Juga: Harga Minyak Anjlok, Ancaman Resesi Bikin Permintaan Bahan Bakar Berkurang

Dwi mengatakan, ada gesekan terjadinya pemotongan produksi oleh OPEC+ yakni dalam hal pengurangan produksi maka dapat dilihat harga minyak dan gas akan relatif berada di level tinggi.

"Jadi harusnya sudah turun USD80 tapi kemudian di tahan balik lagi ke USD90an per barel, nah itu tentu buat Indonesia di hulu migas bagus, karena dengan demikian motivasi investasi lebih baik, keekonomian lebih bagus, buat Indonesia bagus, karena kita teman ke duanya. Jadi kita tidak berada dalam konflik itu," kata Kepala SKK Migas saat ditemui di SKK Migas, Jakarta (17/10/2022).

Dwi Soetijpto menuturkan, itu bisa jadi kesempatan emas bagi Indonesia untuk menarik potensi investasi di sektor hulu minyak dan gas (migas).

Baca Juga: Terus Naik, Harga Minyak Dunia Bakal Bertahan di Atas USD100/Barel hingga 2023

Dia mengungkapkan, hal tersebut sangat positif untuk dimanfaatkan sebagai alternatif investasi serta memperbaiki iklim investasi di Indonesia.

"Kalau buat Indonesia di hulu migas dia akan bagus, karena dengan demikian motivasi orang untuk berinvestasi akan baik, karena keekonomiannya lebih bagus," kata dia.

"Buat Indonesia sendiri juga sebenarnya akan jadi bagus, karena kita teman dari kedua-duanya, ke Amerika teman, ke Arab Saudi teman. Jadi kita tidak berada dalam konflik itu. Oleh karena itu, mustinya bagus, karena kita jadi alternatif untuk berinvestasi," ucapnya.

Baca Juga: 50 Tahun Berkarya, Indomie Konsisten Hidupkan Inspirasi Indomie untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

Meskipun demikian, para pelaku hulu migas masih punya tugas atau pekerjaan rumah lainnya untuk menghadirkan upaya-upaya transformasi dalam memperbaiki iklim investasi di Tanah Air.

Selain itu, dengan harga migas yang masih tinggi pun perlu dihitung lebih lanjut terkait ongkos impor minyak, termasuk untuk hasil produksinya sebagai bahan bakar minyak, alias BBM.

"Tentu saja menjadi costly, karena dengan harga crude yang lebih mahal. Di level manakah keseimbangan benefit yang diperoleh dari upstream dengan cost yang muncul untuk subsidi," katanya.

"Tentu itu yang perlu dicari. Tapi kira-kira dari sisi upstream, maintaning kondisi harga sampai beberapa saat akan mempengaruhi iklim investasi di Indonesia," tambah Dwi Soetjipto.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini