Share

BI Ungkap Kondisi Ekonomi Dunia, 28 Negara Minta Bantuan Keuangan ke IMF

Antara, Jurnalis · Jum'at 21 Oktober 2022 15:33 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 21 320 2691894 bi-ungkap-kondisi-ekonomi-dunia-28-negara-minta-bantuan-keuangan-ke-imf-7yYJmlxQtO.jpg BI Ungkap Kondisi Ekonomi Dunia. (Foto: Okezone.com/Freepik)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat ada 28 negara telah mengajukan permintaan bantuan keuangan ke Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF).

"Ini merupakan informasi di dalam pertemuan tahunan IMF yang baru saja selesai di Washington D.C, Amerika Serikat," ucap Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti, dalam Peluncuran Buku Kajian Stabilitas Keuangan No.39 September 2022 yang dipantau secara virtual di Jakarta, dikutip dari Antara, Jumat (21/10/2022).

Baca Juga: Wapres: Alhamdulillah Kita Tidak Masuk Pasien IMF

Pengajuan bantuan keuangan tersebut seiring dengan fenomena terjadinya perlambatan ekonomi secara global dan bahkan diperkirakan terjadi resesi ringan di tahun 2023.

Dia mengungkapkan dunia saat ini menghadapi suatu ketidakpastian yang sangat tinggi atau biasa disebut VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity), yang tentunya akan menyebabkan tekanan tidak hanya pada negara maju tetapi negara berkembang.

Baca Juga: Seberapa Kuat RI Hadapi Badai Ekonomi 2023?

Bahkan jika dilihat lebih lanjut episentrum dari terjadinya gejolak VUCA saat ini adalah di negara maju, seperti di Amerika Serikat di mana mereka menghadapi tekanan inflasi yang tinggi dan kemudian direspons dengan kebijakan moneter melalui peningkatan suku bunga acuan yang sangat agresif.

Langkah moneter tersebut pada akhirnya memberikan tekanan, bukan hanya untuk Amerika, tetapi juga untuk negara maju di sekitarnya dan negara-negara pasar berkembang seperti Indonesia.

Baca Juga: BuddyKu Fest: 'How To Get Your First 10k Follower'

Follow Berita Okezone di Google News

Menurut Destry, kondisi ketidakpastian tersebut kemudian makin diperparah dengan meningkatnya tensi geopolitik yang akhirnya menyebabkan perang antara Rusia dengan Ukraina.

"Lalu ada juga fenomena heatwave di berbagai negara, kebijakan proteksionisme masing-masing negara, dan tambahan adanya kebijakan Zero-COVID di Tiongkok yang akhirnya membuat ekonomi negeri itu juga tertahan pertumbuhannya," tuturnya.

Maka dari itu, dirinya menekankan Indonesia harus tetap mewaspadai beragam tekanan global yang sedang terjadi dan tetap berhati-hati.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini