Share

Fakta Mengejutkan! Sri Mulyani Ungkap Orang Miskin RI Lebih Pilih Beli Rokok Dibanding Tahu Tempe

Fayha Afanin Ramadhanti, Okezone · Minggu 06 November 2022 12:16 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 06 320 2701843 fakta-mengejutkan-sri-mulyani-ungkap-orang-miskin-ri-lebih-pilih-beli-rokok-dibanding-tahu-tempe-TgdpLZqgsq.jpg Pertimbangan Kenaikan Cukai Rokok. (Foto: Okezone.com/Reuters)

JAKARTA - Pemerintah langsung memutuskan bahwa cukai rokok naik 10% hingga 2024. Keputusan tersebut dibuat supaya konsumsi rokok menurun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, konsumsi rokok menjadi konsumsi rumah tangga terbesar kedua setelah beras. Bahkan, konsumsi tersebut melebihi konsumsi protein seperti telur dan ayam.

Baca Juga: Cukai Dinaikkan, Konsumsi Rokok pada Kelompok Masyarakat Miskin Ditargetkan Turun

“Yang kedua mengingat bahwa konsumsi rokok merupakan konsumsi kedua terbesar dari rumah tangga miskin yaitu mencapai 12,21% untuk masyarakat miskin perkotaan dan 11,63% untuk masyarakat pedesaan. Ini adalah kedua tertinggi setelah beras, bahkan melebihi konsumsi protein seperti telur dan ayam, serta tahu, tempe yang merupakan makanan-makanan yang dibutuhkan oleh masyarakat,” kata Sri Mulyani, Minggu (6/11/2022).

Oleh karena itu, pemerintah memutuskan untuk menaikkan tarif cukai guna mengendalikan baik konsumsi maupun produksi rokok. Menkeu berharap kenaikan cukai rokok dapat berpengaruh terhadap menurunnya keterjangkauan rokok di masyarakat.

Baca Juga: Cukai Rokok Naik Jadi 10%, Ini 4 Aspek Pertimbangannya

“Pada tahun-tahun sebelumnya, di mana kita menaikkan cukai rokok yang menyebabkan harga rokok meningkat, sehingga affordability atau keterjangkauan terhadap rokok juga akan makin menurun. Dengan demikian diharapkan konsumsinya akan menurun,” ucapnya.

Baca Juga: BuddyKu Fest: Challenges in Journalist and Work Life Balance Workshop

Follow Berita Okezone di Google News

Selain itu, instrumen cukai ini juga disusun dengan mempertimbangkan sejumlah aspek mulai dari tenaga kerja pertanian hingga industri rokok.

Di samping itu, pemerintah juga memperhatikan target penurunan prevalensi perokok anak usia 10-18 tahun menjadi 8,7 persen yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini