Share

Tekan Ancaman Resesi, Sri Mulyani Serukan Stabilitas Ekonomi

Selfie Miftahul Jannah, MNC Portal · Senin 14 November 2022 17:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 14 320 2707296 tekan-ancaman-resesi-sri-mulyani-serukan-stabilitas-ekonomi-tE6LZxOQFl.JPG Sri Mulyani. (Foto: Okezone)

JAKARTA – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyerukan kolaborasi dan kerjasama kepada para pemimpin yang hadir dalam G20 demi membuat ekonomi lebih stabil.

Hal tersebut dikatakan Sri Mulyani dalam B20 Summit saat menjadi Keynote Speech on How Public-Private Partnership Can Accelerate Economic Development + Signing Ceremony INA EV Fund, di Bali, Senin (14/11/2022).

Dia menjelaskan, kebijakan yang fokus pada perumusan masalah ekonomi akan membuat situasi lebih stabil.

 BACA JUGA:Sri Mulyani: Dana Pandemi agar Dunia Lebih Siap di Masa Depan

Kondisi tersebut secara linear akan membuat ekonomi di satu negara menjadi lebih kuat menghadapi adanya ancaman yang akan datang.

“Kita harus mengatasi akar penyebab penurunan inflasi. Harus menjadi fokus utama untuk menghindari kerusakan lebih lama dan mengembalikan stabilitas. Situasi akhir-akhir ini begitu rumit sehingga kepercayaan di sektor keuangan dan pasar dan ekonomi secara keseluruhan dapat dengan mudah terhalang,” jelasnya.

Dia menjelaskan, tantangan yang dialami dunia saat ini seperti tekanan inflasi yang tinggi, kerawanan energi dan pangan, tekanan finansial, serta geopolitik dari fragmentasi jelas bukan hal mudah untuk dilalui.

Baca Juga: Hadirkan Acara Meet Eat Inspire, Hypernet Technologies Tawarkan Layanan untuk Produk Server dan Storage

Follow Berita Okezone di Google News

“Jika kita tidak hati-hati dengan perumusan kebijakan kita dan banyak pembuat kebijakan justru kini dihadapkan pada ruang gerak yang sangat sempit. Apakah fiskal dan moneter membantu? setidaknya kasus Indonesia kami bekerja. Keterkaitan antara, kebijakan fiskal dan kebijakan moneter secara sinkron dan harmonis,” jelasnya.

Strategi untuk membuat perekonomian menjadi lebih harmonis dan stabil sudah diaplikasikan di Indonesia.

Dia juga menjelaskan, kebijakan perlu terus dilakukan dengan, dikalibrasi dan direncanakan dengan baik.

“Kita harus memberikan dukungan yang baik dan tepat sasaran, dan terutama karena ruang kebijakan yang semakin terbatas, harus lebih tepat sasaran, terutama dalam melindungi masyarakat miskin dan rentan. Saya pikir kita semua setuju bahwa ekonomi global sedang menghadapi kesulitan yang luar biasa,” pungkasnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini