Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kedelai Lokal Kalah Populer Ketimbang Padi dan Jagung, Ini Alasannya

Fani Ferdiansyah , Jurnalis-Kamis, 17 November 2022 |13:59 WIB
Kedelai Lokal Kalah Populer Ketimbang Padi dan Jagung, Ini Alasannya
Kedelai. (Foto: MPI)
A
A
A

GARUT - Produksi tempe dan tahu di Kabupaten Garut masih bergantung pada kacang kedelai impor.

Aspek ekonomis dan kualitas, disebut sebagai penyebab para perajin tempe tahu di daerah sangat mengandalkan pasokan kedelai impor ketimbang lokal.

Wakil Bupati Garut Helmi Budiman mengakui jika pasokan kacang kedelai lokal tidak semelimpah seperti kedelai impor.

Menurutnya, para petani di daerah lebih memilih menanami padi dan jagung ketimbang kacang kedelai.

 BACA JUGA:Harga Kedelai Capai Rp14 Ribu, Produksi Tempe Berhenti

"Karena memang dari satu sisi tidak ekonomis bagi petani. Secara hitung-hitungan paska panen, komoditas padi dan jagung lebih menjanjikan ketimbang kacang kedelai," kata Helmi Budiman pada MNC Portal Indonesia (MPI), Kamis (17/11/2022).

Dia menjelaskan jika ongkos tanam kedelai dan hasil panennya tidak memberikan keuntungan yang berarti bagi petani.

Kebijakan secara nasional, kata dia, sangat diperlukan guna mengubah pola pikir dan menarik minat para petani untuk menanami kedelai.

"Bagaimana caranya petani tertarik menanam kedelai, jadi untuk kedelai ini memang diperlukan kebijakan yang sifatnya nasional," jelasnya.

Helmi Budiman mengaku pernah membahas hal tersebut dengan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) dalam kunjungan kerja di Garut beberapa waktu lalu.

"Waktu itu dibahas bibit kedelai unggul yang percontohannya dilakukan di Bogor. Kami minta agar Garut menjadi daerah percontohan bibit kedelai unggul kedua," katanya.

Menurutnya, hasil produksi dari bibit kedelai unggul ini sangat potensial bagi keekonomian para petani pada sektor pertanian, serta produksi tahu tempe karena memiliki kualitas sebagai bahan baku utama.

"Jadi dari 1 hektare (ha) itu panennya lebih besar, lebih unggul. Bibit bagus akan produktif, produksinya besar, sebenarnya bukan tidak menarik, tapi buat petani itu cuma dari sisi harga dari sisi cost (biaya) dan ekonomi tidak menarik, kalau produksinya besar, komoditas yang bagus, saya kira petani akan banyak menanam kedelai," papar Wabup Garut.

Sementara itu, seorang perajin tempe asal Kecamatan Tarogong Kidul, Abdul Azis (38), membeberkan alasan dia tak menggunakan kedelai lokal dan lebih memilih kedelai impor sebagai bahan baku produksinya.

"Pertama dari segi kualitas, kualitas tempe yang menggunakan kedelai lokal sebagai bahan baku tidak sebaik yang berbahan dasar kedelai impor," bebernya.

Dia juga menyebut harga kedelai lokal per kg lebih mahal daripada kedelai impor.

"Jika sekarang kedelai impor sudah mahal, maka yang lokal pasti lebih mahal lagi," pungkasnya.

(Zuhirna Wulan Dilla)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement