Share

Ada Resesi di 2023, Begini Prospek Tambang Batu Bara

Rizky Fauzan, MNC Portal · Kamis 17 November 2022 15:34 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 17 320 2709505 ada-resesi-di-2023-begini-prospek-tambang-batu-bara-19fKirWKg9.jpg Geo Mining Ungkap Potensi Bisnis Batu Bara di Tengah Resesi. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Pandemi Covid-19 masih belum selesai, bahkan tahun depan sudah diprediksi terjadi resesi ekonomi. Lantas bagaimana kondisi usaha seperti sektor tambang batu bara?

Environment Engineer PT Geo Mining Berkah Desri Hanifah mengatakan, dalam sektor tambang hal tersebut cukup memukul dunia pertambangan. Namun, secara umum sektor pertambangam masih dapat bertahan dan berkembang di tengah pandemi dan resesi.

"Sektor pertambangan masi melenggang. Semakin banyak bahan galian yang dieksploitasi akan menjadi tumpuan income bagi Indonesia," kata Desri dalam webinar "Facing The Challenges of Indonesia's Mining Industry in 2023" secara virtual, Kamis (17/11/2022).

Baca Juga: Cadangan Batu Bara MNC Energy Investments (IATA) Meningkat Jadi 332 Juta MT

Terlebih, lanjutnya, permintaan yang tinggi tidak akan mempengaruhi barang atau tambang. Selain itu, resesi juga jadi momentum bahwa Indonesia bisa menjadi negara maju.

"Bahwa sektor pertambangan tidak akan terpengaruh terlalu besar karena kita memiliki sumber daya yang beragam sehingga kita percaya diri bahwa akan aman dari resesi," tambahnya.

Sebagaimana diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2022 tercatat tumbuh sebesar 5,72% secara tahunan (year-on-year/yoy). Roda ekonomi Indonesia melaku di tengah resesi yang melanda berbagai negara, khususnya negara maju.

Baca Juga: PLTU Batu Bara dengan Kapasitas 9,1 Gigawatt Dipensiunkan pada 2027

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statitistik (BPS) Margo Yuwono menuturkan beberapa sektor perekonomian yang kebal dari resesi. Pasalnya, sektor-sektor perekonomian tersebut mencatatkan performa yang impresif, bahkan ada yang tumbuh hingga dobel digit.

"Hal ini tentu saja merupakan capaian atau prestasi seluruh masyarakat Indonesia di tengah terpaan kondisi global yang tidak menentu, bahkan tren industri pengolahan semakin menguat," kata Margo dalam konferensi pers.

Margo mengatakan bahwa penyumbang kedua terbesar, yaitu sektor pertambangan, yakni 13,47 persen. 

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

Pertambangan batu bara dan lignit tumbuh sebesar 9,41 persen, yang didorong oleh peningkatan permintaan dari luar negeri terhadap batu bara, serta kenaikan harga batu bara yang signifikan.

Lebih lanjut, pertambangan bijih logam tumbuh sebesar 9,03 persen, yang didorong oleh meningkatnya produksi tembaga dan emas di distrik mineral Grasberg, Papua.

Selain itu, kenaikan juga dikarenakan adanya peningkatan permintaan dari luar negeri terutama untuk komoditi emas dan tembaga.

"Kenaikan harga batu bara di tingkat global berdampak positif pada beberapa provinsi. Misalkan di Sumatera Selatan, sektor pertambangan memiliki share dalam ekonominya 25,88%, dan ini kalau kita hitung source of growth-nya pertambangan merupakan terbesar ketiga setelah perdagangan dan industri pengolahan," katanya. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini