Share

Kritik Impor Beras, Ombudsman: Jangan Sampai Barang Tiba saat Panen Raya

Advenia Elisabeth, MNC Portal · Kamis 08 Desember 2022 14:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 08 320 2723124 kritik-impor-beras-ombudsman-jangan-sampai-barang-tiba-saat-panen-raya-3meTZEIhxP.jpg Kritik Impor Beras. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA – Ombudsman menyoroti aksi impor beras yang dilakukan pemerintah. Kebijakan tersebut dinilai belum memenuhi keseluruhan indikator pengambilan keputusan impor beras berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan.

"Dalam pengambilan keputusan impor beras, penting untuk memperhatikan 12 indikator. Sementara, keputusan impor beras ini belum memenuhi 12 indikator tersebut, namun hanya sebagian yakni antisipasi krisis pangan dan minimnya stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola oleh Perum Bulog," ujar Anggota Ombudsman RI Yeka Hendra Fatika, Kamis (8/12/2022).

Baca Juga: Beda dengan Bulog, Mentan Sebut Produktivitas Beras Tahun Ini Paling Tinggi

Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan maladministrasi dalam pengambilan keputusan impor beras.

Merujuk pada Laporan Akhir Hasil Pemeriksaan (LAHP) Ombudsman RI terkait Tata Kelola Cadangan Beras Pemerintah 2021, terdapat 12 indikator dalam pengambilan keputusan impor beras maupun besaran CBP sesuai UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan.

Indikatornya adalah perkembangan luas lahan, perkembangan potensi produksi padi dan beras nasional, proyeksi ketersediaan CBP, ketersediaan stok CBP pada Perum Bulog, ketersediaan stok beras di rumah tangga, penggilingan dan pedagang. Kemudian perkembangan konsumsi beras per kapita, perkembangan ekspor dan impor beras, perkembangan harga beras/stabilisasi harga beras, target penyerapan dan penyaluran Perum Bulog atas produksi beras dalam negeri, kalender masa tanam dan masa panen, ancaman produksi pangan, dan keadaan darurat dan krisis pangan.

Baca Juga: Disetujui 500.000 Ton, Dirut Bulog: Impor Beras Paling 200.000 Ton

Yeka menambahkan, meskipun keputusan impor tidak selalu berdampak buruk, namun pemerintah harus mengedepankan aspek tata kelola yang baik dan tetap perlu mengkaji ulang urgensi impor beras CBP dan dapat memberikan penjelasan kepada publik atas pertimbangan diambilnya keputusan tersebut.

Selain itu, hal lain yang perlu diperhatikan adalah pemerintah perlu memperhatikan penetapan waktu impor. Artinya, jangan mengeluarkan beras impor di saat Indonesia memasuki panen raya.

“Jangan sampai barang impor tersebut justru tiba di Indonesia pada saat panen raya awal tahun 2023, sehingga tidak memberikan perlindungan kepada kepentingan dan kesejahteraan petani,” tegas Yeka.

Baca Juga: BuddyKu Fest: 'How To Get Your First 10k Follower'

Follow Berita Okezone di Google News

Selanjutnya, Ombudsman meminta pemerintah untuk memperhatikan kondisi disposal stock dalam pelaksanaan pemenuhan stok beras baik menggunakan skema penyerapan dalam negeri maupun impor.

“Kasus pemusnahan disposal stock pada tahun 2019 untuk stok beras tahun 2016 sebanyak 20.000 ton harus menjadi patokan untuk menetapkan hitungan kebutuhan yang presisi agar tidak terjadi inefisiensi sumber daya dan keuangan,” terang Yeka.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini