Share

Stok Beras RI Menipis, Cari Jalan Keluar dengan Impor

Advenia Elisabeth, MNC Portal · Jum'at 09 Desember 2022 14:53 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 09 320 2723907 stok-beras-ri-menipis-cari-jalan-keluar-dengan-impor-aQq6fJzauR.jpg Ilustrasi beras. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Impor beras dinilai bisa menjaga pasokan di Indonesia yang saat ini tengah menipis.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Hasran menilai, kebijakan tata niaga beras yang lebih longgar seperti impor yang terencana, sebenarnya akan dapat menghindari kondisi seperti saat ini.

Menurutnya, jika hal itu dilakukan ketahanan pangan nasional tidak terancam.

โ€œImpor beras yang terencana dan didasarkan atas perkiraan produksi dan harga di dalam negeri, dan bukan impor yang sifatnya reaktif, akan dapat mencegah terjadinya ancaman kekurangan stok beras nasional Perum Bulog seperti yang terjadi sekarang ini,โ€ ujar Hasran, Jumat (9/12/2022).

ย BACA JUGA:Usai Minyak Goreng, Ombudsman Soroti Data Beras

Sebelumnya, Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi telah memperingatkan bila Perum Bulog tidak bisa menambah stok beras hingga 1,2 juta ton sampai akhir tahun dari stoknya yang sebesar hampir 600 ribu ton per 22 November 2022, maka akibatnya akan sangat berbahaya bagi stabilitas pangan nasional.

Apalagi mengingat stok Bulog yang sudah rendah ini pasti akan terus turun karena fungsinya mengintervensi pada kondisi tertentu, saat harga tinggi atau ada kejadian luar biasa seperti bencana gempa di Cianjur baru-baru ini.

Baca Juga: BuddyKu Fest: 'How To Get Your First 10k Follower'

Follow Berita Okezone di Google News

Penyerapan beras Bulog, menurut Arief, seharusnya dilakukan di semester satu dan bila dilakukan sekarang, menyerap 1,2 juta ton beras akan sulit karena tingginya harga gabah di pasar.

Solusi impor, yang selama ini hanya bersifat reaktif, yang dilakukan secara terencana dari jauh-jauh hari, menjadi penting mengingat ketersediaan cadangan beras tidak mencukupi hingga waktu panen mendatang yang baru akan mulai bulan Februari.

Bulog mengalami kesulitan dalam menyerap beras dalam negeri mengingat harga gabah yang sudah lebih tinggi dari harga beli Bulog yang sekitar Rp4.200 per kilogram.

Menurut Hasran, impor merupakan solusi logis mengingat harga beras nasional cenderung masih lebih mahal dibandingkan di pasar internasional, termasuk di beberapa negara tetangga seperti Filipina dan Thailand.

Kemudian, dia juga mengatakan proses produksi beras Indonesia sendiri belum efisien dan ini menjadikan harganya lebih tinggi. Sementara kualitasnya pun belum seragam.

"Melihat urgensi perlunya kepastian Perum Bulog memiliki stok yang mencukupi, seharusnya pemerintah mempertimbangkan opsi impor beras jauh-jauh hari selain penyerapan dari dalam negeri,โ€ imbuh Hasran.

Dalam jangka yang lebih panjang, CIPS merekomendasikan upaya peningkatan produktivitas pangan dan peningkatan kapasitas petani agar terus dilakukan, termasuk dengan adopsi teknologi pertanian, modernisasi dan menarik investasi di bidang pangan dan pertanian.

Proses produksi yang efisien merupakan salah satu cara untuk meningkatkan daya saing beras dalam negeri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini