JAKARTA - Bank Rakyat Indonesia (BRI) mendapat buah manis berkat transformasi yang sudah disiapkan jauh sebelum pandemi Covid-19 melanda Tanah Air. Buah yang didapat BRI adalah laba bersih yang mencapai Rp51,40 triliun di 2022.
Pendapatan ini pun tertinggi dalam sejarah perbankan Indonesia. Di mana laba bersih BRI meroket 67,15% secara tahunan.
BRI pun menjadi salah satu contoh keberhasilan transformasi yang telah dilakukan BUMN. Terlihat dari setiap capaian kinerja positif yang selalu konsisten hingga sekarang.
Menurut Direktur Utama BRI Sunarso, keberhasilan tersebut karena BRI sudah mempersiapkan strategi dengan matang sebelum pandemi Covid-19. Pada 2016, BRI sudah merancang strategi untuk menjaga pertumbuhan perseroan melalui konsep besar BRIvolution 1.0. Program tersebut diuji coba pada 2017 dan telah dilaksanakan hingga 2020 lalu.
Baca Juga: 4 Bank BUMN Cetak Laba di 2022, BRI Paling Besar Rp51,4 Triliun
Sebenarnya dengan BRIvolution 1.0, BRI ingin mencapai target menjadi The Most Valuable Bank in Southeast Asia & Home to The Best Talent. Akan tetapi di awal 2020, pandemi Covid-19 melanda Indonesia.
Tak ayal masalah kesehatan tersebut membuat krisis yang memukul perekonomian dunia termasuk Indonesia. Krisis kali ini pun berbeda dengan masalah ekonomi pada 1998, 2008, atau 2013. Krisis karena pandemi membuat perekonomian tertekan di seluruh dunia.
Non Performing Loan (NPL) naik terutama pada nasabah di segmen pelaku UMKM. Padahal UMKM adalah tulang punggung BRI dan Indonesia.

“Itu [UMKM] yang dulu tidak kena krisis sekarang kena krisis. Maka kita harus me-review transformasi kita. BRIvolution 1.0 itu menjadi BRIvolution 2.0. Kami tetapkan mulai 2020,” ujar Sunarso.
Dia melanjutkan, visi besar BRI pun turut diubah. BRI sadar ini tantangan baru sehingga harus melibatkan seluruh komponen anak perusahaan untuk menghadapiinya.
Visi sebagai Home to The Best Talent difokuskan menjadi Champion of Financial Inclusion. Hal itu akan mengembalikan fokus bank dengan jejaring terluas di Tanah Air tersebut pada khittahnya di segmen UMKM termasuk usaha Ultra Mikro (UMi).
BRI juga mencari sumber pertumbuhan baru dengan prinsip go smaller, dengan fokus pada segmen usaha yang lebih kecil dari mikro yakni ultra mikro. Kemudian BRI memperkuat digitalisasi layanan jasa keuangannya dengan prinsip berbiaya murah dan efisien tercipta.
“Maka Champion of Financial Inclusion kita terjemahkan sebagai BRI harus mampu melayani masyarakat sebanyak mungkin, dengan biaya semurah mungkin melalui digitalisasi,” tuturnya.
Sebenarnya, lanjut Sunarso, transformasi yang dilakukan BRI difokuskan pada dua area utama, digital dan culture. Transformasi digital dilakukan dengan fokus untuk mendapatkan efisiensi melalui digitalisasi proses bisnis, dan menciptakan value baru melalui new business model.
Misalnya, efisiensi digitalisasi business process adalah dengan adanya BRISPOT atau aplikasi pemrosesan kredit melalui mobile yang digunakan oleh tenaga pemasar (Mantri) BRI.
“Dengan BRISPOT, proses booking kredit mikro (produktivitas) meningkat dari rata-rata Rp2,5 triliun per bulan menjadi lebih dari Rp4 triliun per bulan. Selain itu proses kredit menjadi jauh lebih cepat, dari sebelumnya membutuhkan waktu dua minggu menjadi rata-rata dua hari, bahkan dapat lebih cepat," ucap Sunarso.
Contoh keberhasilan new business model dari transformasi digital yang dilakukan oleh BRI adalah layanan perbankan melalui agen yang dinamakan Agen BRILink yang volume transaksinya telah menembus Rp800 triliun pada tahun lalu dan tahun ini kami targetkan mencapai lebih dari Rp1.000 triliun.
Digitalisasi ini pun bisa mengakselerasi kinerja BRI pada saat pandemi. Di mana dengan BRImo, Super Apps milik BRI mampu mencatatkan pertumbuhan yang signifikan selama pandemi berlangsung.
Dari sisi culture, BRI melakukan penyelarasan core value untuk meningkatkan mutu SDM perseroan pada pertengahan 2020. Sejak diluncurkan Menteri BUMN pada Juli 2020, BRI langsung mengimplementasikan dan menyelaraskan AKHLAK (Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif) dengan core value perseroan.
"Hasilnya dapat dirasakan bahwa saat ini seluruh insan BRIlian (Pekerja BRI) menyadari peran pentingnya untuk memberikan makna bagi Indonesia, baik melalui economic value maupun social value,” karanya.
Transformasi culture BRI pun membangun Performance Driven Culture. Budaya berbasis kinerja dilakukan dengan membangun performance management system, dimana membutuhkan management information system yang didukung oleh data yang valid dan akurat.
“Dengan sistem tersebut maka setiap individu akan mampu merancang dan merencanakan suksesnya sendiri. Tugas perusahaan adalah menyiapkan “lapangan” atau kompetisi yang sehat, menyediakan aturan main berkompetisi (sistem), menyiapkan score board (Performance Management System), dan pada akhirnya menyediakan rewards," tuturnya.
Sementara itu, Direktur Digital dan Teknologi Informasi BRI Arga M Nugraha mengatakan, BRI telah melakukan transformasi digital sejak 2015 melalui dua pendekatan utama, sehingga perseroan mampu melambungkan bisnis dengan layanan yang semakin prima dan modern bagi nasabah.
“Kami di BRI memang melihat transformasi digital sebagai suatu hal yang akan membawa kami, melontarkan kami, untuk bisa lebih men-support bisnis, satu. Yang kedua, men-support utamanya juga untuk nasabah kami,” katanya.
Pendekanan pertama adalah hybrid approach. Dalam hal ini BRI memadu padankan layanan digital dan konvensional, yaitu melalui transformasi terhadap proses-proses bisnis eksisting dan membawanya lebih digital.
Melalui pendekatan ini perseroan memperbaiki banyak proses sekaligus mempercepat personal bisnis dan juga meningkatkan efisiensi serta produktivitas.
Kedua adalah business digital approach itu sendiri. Di mana perseroan menargetkan mencari new sources of growth hingga new business revenue. Sehingga memungkinan Insan BRILian atau pekerja BRI untuk mencari sumber pertumbuhan bisnis baru hingga di ranah yang tidak lazim bagi BRI melakukannya sebelumnya.
“Ini yang sedang kami lakukan dan kami bayangkan selama beberapa tahun kemarin. Tahun 2021 lalu, kami coba reframe lagi niatan kami yang termaktub dalam sebuah dokumen yang kami sebut dokumen transformasi kami BRIVolution. Dan tahun lalu kami perbaharuhi dan kami segarkan dengan beberapa update yang kami sebut dengan BRIvolution 2.0,” ujarnya menjelaskan.
BRI Cetak Sejarah Perbankan Indonesia
Dengan berbagai transformasi dan fokus yang telah dilakukan, BRI pun sukses mendapat buah yang sangat manis saat ini. Perseroan berhasil mencetak laba yang menjadi sejarah perbankan Indonesia.
BBRI berhasil mencetak laba bersih yang tembus Rp51,40 triliun sepanjang tahun 2022 secara konsolidasi. Perolehan laba bersih tersebut meningkat 67,15% secara tahunan.
Menurut Sunarso, perolehan laba bersih 2022 didorong oleh 34 juta nasabah BRI.
"Sepanjang tahun 2022, alhamdulillah kita selalu didampingi kawan setia kita dalam melayani 34 juta nasabah mikro, didampingi dua kawan setia kita si untung dan si slamet sehingga BRI mampu mencetak laba Rp51,4 triliun atau tumbuh 67%," ujar Sunarso.
Adapun kontribusi laba utamanya berasal dari pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang sebesar Rp124,6 triliun, tumbuh 9,21% (yoy).
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan di media massa, BRI telah mengucurkan kredit senilai Rp1.139,08 triliun. Penyumbang kredit terbesar adalah segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang tumbuh tinggi 13,92% (yoy) dengan nilai kredit Rp965,3 triliun.
Aset BRI sampai dengan Desember 2022 tercatat naik 11,18% menjadi Rp1.865,64 triliun. Sedangkan, perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 14,85% menjadi Rp1.307,88 triliun.
Berdasarkan komposisi penyokong DPK, dana murah atau CASA sekitar 66,70%. Peningkatan komposisi CASA tersebut turut berimbas pada efisiensi biaya dana (cost of fund) BBRI menjadi 1,87%.
Adapun dari sisi rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) secara kotor (gross), mengalami penurunan dari 3,08% menjadi 2,82% di Desember 2022.
Sedangkan, NPL bersih (net) BRI sedikit mengalami peningkatan menjadi 0,73% dari tahun sebelumnya 0,70%. NPL coverage tercatat senilai 305,73%.
Rasio pinjaman terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR) bank yang fokus pada pembiayaan UMKM ini sampai dengan Desember 2022 tercatat sebesar 87,09% dengan rasio kecukupan modal atau CAR 25,54%.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.