JAKARTA - Generasi milenial dan generasi Z gemar belanja barang bekas atau seringkali disebut thrifting. Kegiatan ini diibaratkan seperti mencari harta karun, di mana saat barang yang dicari ada timbul rasa bahagia yang sangat besar.
Senior Manager of Communication Goodwill Carolyn Becker mengungkapkan, gabungan dari harga dan pengaruh sosial media turut berperan dalam meningkatkan tren belanja barang bekas di kalangan anak muda.
Goodwill merupakan salah satu jaringan toko yang menjual barang bekas di Amerika
“(Ketika) Anda datang ke Goodwill, Anda bisa mendapatkan mantel bermerek desainer terkenal dengan harga di bawah USD20 dan itu luar biasa terutama bagi generasi muda yang memilik dana yang terbatas," kata Carolyn , dikutip dari VOA Indonesia, Minggu (30/4/2023).
“Seperti menggali harta karun yang Anda sukai, ‘Oh, saya melihat (barang ini) di TikTok dengan harga setengah atau seperempat dari harga baru. Kalau semua orang dapat ikut merasakan ketika Anda merasakan sensasi kegembiraan, teman-teman dan anggota keluarga jadi ingin (melakukan hal yang sama seperti Anda),” lanjutnya.
Hal tersebut pun terlihat juga dari laporan yang dikeluarkan perusahaan konsinyasi online raksasa ThredUp dan perusahaan analitik Global Data.
Tercatat bahwa pertumbuhan usaha barang bekas diperkirakan akan berlipat ganda pada tahun 2026, atau mencapai USD82 miliar per tahun.
Hal ini karena minat belanja barang bekas atau seringkali disebut thrifting, meningkat di Amerika. Salah satu penyebab utamanya adalah perilaku belanja dari generasi milenial dan generasi Z.
Hasil survei yang dikeluarkan ThreadUp atas 3.500 koresponden warga Amerika yang di atas 18 tahun menunjukan 62% dari generasi milenial dan generasi Z akan melihat pasar barang bekas terlebih dahulu sebelum mencari yang baru.
(Feby Novalius)