"Nggak apa-apa, karena itu kondisi situasi, negara-negara punya kebijakan. Sekarang kita harus mencari alternatif, Vietnam oke punya kebijakan itu, tapi ada Thailand, India, Pakistan, ya kita lihat saja," kata dia di kesempatan yang sama.
Lebih lanjut disampaikan Buwas, selama ini Indonesia tidak ada jumlah pasti berapa ton beras yang dipasok dari Vietnam. Sehingga ia tidak bisa menyebutkan berapa besaran jumlah beras yang sekiranya mengurangi jatah masuk ke Indonesia.
"Saya tidak bergantung pada persen, ya begitu dia sanggup sekian, kita ambil, tergantung stok yang ada," pungkasnya.
Sebagai informasi, Vietnam merupakan negara pengekspor beras terbesar ketiga di dunia setelah India, dan Thailand. Berdasarkan dokumen Pemerintah Vietnam yang dikutip dari Reuters, pengurangan ekspor ini bertujuan untuk menjaga ketahanan pangan.
“Pengurangan ekspor dilakukan untuk meningkatkan ekspor beras berkualitas tinggi, memastikan ketahanan pangan dalam negeri, melindungi lingkungan dan beradaptasi dengan perubahan iklim," tulis dokumen tersebut.
Nantinya, pengurangan ekspor akan berpengaruh terhadap pendapatan ekspor beras yang akan turun menjadi 2,62 miliar dolar AS per tahun pada 2030. Angka ini turun dari 3,45 miliar dolar AS pada 2022.
Pada dokumen tersebut, disampaikan juga bahwa pada 2025, 60 persen dari ekspor beras Vietnam akan dikirim ke pasar Asia, 22 persen ke Afrika, 7 persen ke Amerika Serikat (AS), 4 persen ke Timur Tengah, dan 3 persen ke Eropa. Dengan demikian, ekspor beras Vietnam ke pasar Asia pada 2030 menjadi 55 persen, sedangkan Eropa 5 persen.
Vietnam disebut harus mempersiapkan diri dalam menjaga ketahanan pangan melalui pembatasan kuota ekspor. Ini dampak dari penyusutan lahan akibat perubahan iklim di Vietnam.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.