Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ekonomi Global Bergejolak, Sri Mulyani Sebut Indonesia Jadi Pusat Perhatian Dunia

Michelle Natalia , Jurnalis-Selasa, 06 Juni 2023 |12:17 WIB
Ekonomi Global Bergejolak, Sri Mulyani Sebut Indonesia Jadi Pusat Perhatian Dunia
Menteri Keuangan Sri Mulyani (Foto: Okezone)
A
A
A

"2023 ini IMF menyebutkan pertumbuhan hanya 2,8%, lebih rendah dari tahun lalu yang sebetulnya juga belum pulih banget yaitu 3,4%," ungkap Sri.

Untuk tahun depan, meski diperkirakan ada pemulihan yang lebih baik, namun ketidakpastian juga sama tingginya. "Inilah yang sedang kita hadapi, bagaimana menavigasi kondisi perekonomian, politik, keamanan global dan hubungan antar negara yang ternyata tidak mulus dan tidak sinkron," sambung Sri.

Bahkan, di atas itu, ada krisis atau potensi shock yang juga bisa mempengaruhi seluruh dunia yaitu pandemi, perubahan iklim, dan perkembangan teknologi digital.

"Dalam situasi yang begitu rumit, kondisi Indonesia alhamdulillah mencatatkan kinerja positif dan cukup resilient," tambah Sri.

Hal ini, kata dia, bisa dilihat dari sisi indikator yang menjadi pusat perhatian dari seluruh pembuat kebijakan. Inflasi, pertumbuhan, dan employment, Indonesia dalam hal ini mencatatkan pertumbuhan ekonomi di atas 5% untuk 5 kuartal berturut-turut.

"Kuartal I tahun ini juga bertahan di atas 5%, yaitu 5,03%. Purchasing Managers' Index (PMI) kita juga dalam situasi ekspansif meskipun kita juga melihat dalam bulan Mei ini sedikit menurun," katanya.

Dia menyebut bahwa ini adalah situasi yang sangat langka karena sebagian besar negara yang selama ini pertumbuhan ekonominya baik justru dihadapkan pada perlemahan pertumbuhan ekonomi dan PMI-nya melemah atau kontraktif.

"Dari sisi stabilitas, dari sisi inflasi kita justru mengalami stabilitas dan penurunan, bahkan saat Indonesia merayakan hari raya dimana secara musiman biasanya demandnya sangat tinggi dan itu bisa menciptakan dorongan kenaikan harga," lanjut Sri.

Dari sisi nilai tukar, Indonesia relatif stabil, dengan nilai tukar Rupiah tahun lalu terdepresiasi rata-rata 3,9% dibandingkan Malaysia Ringgit terdepresiasi 6,2%dan India Rupee turun 6,4%, Rupiah Indonesia masih memiliki resiliensi dan daya tahan.

"Imbal hasil SBN juga relatif sangat stabil, atau bahkan mengalami penurunan, padahal ini di dalam konteks dimana Amerika Serikat sebagai negara terbesar di dunia sudah menaikkan suku bunga dalam 12 bulan terakhir dengan lebih dari 500 basis poin," tandasnya.

(Taufik Fajar)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement