JAKARTA - Kelompok tentara bayaran Wagner menjadi sorotan dari membantu invasi Rusia ke Ukraina menjadi pemberontakan singkat terhadap Presiden Vladimir Putin.
Peristiwa dramatis pun terjadi setelah kelompok yang disebut di atas dan pemiliknya, oligarki Rusia Yevgeny Prigozhin mengumpulkan kekayaan puluhan miliar dolar dengan cara melemahkan mata uang Rusia, memberi keuntungan kepada negara lain, hingga menstabilkan mata uangnya.
Seperti di Suriah, Wagner dilaporkan telah membantu Presiden Bashar al-Assad bersekutu dengan Rusia untuk memerangi kelompok pemberontak dan ISIS, dan perusahaan-perusahaan minyak yang terhubung dengan Prigozhin seperti Evro Polis.
Di mana dia ditawari potongan 25% dari setiap pendapatan dari ladang minyak dan gas yang dibebaskan dari cengkeraman ISIS, demikian ungkap Associated Press dan Departemen Keuangan AS pada tahun 2018.
Sekedar informasi, Evro Polis menghasilkan USD134 juta dalam penjualan kotor dan USD90 juta laba pada tahun 2020 hanya dari merebut kembali ladang minyak dari ISIS selama Perang Saudara Suriah, menurut Financial Times, meskipun perusahaan tersebut telah dijatuhi sanksi oleh AS beberapa tahun sebelumnya.
Di negara Republik Afrika Tengah, sebagai imbalan atas penyediaan tentara bayaran untuk menopang pemerintah dan menghentikan kudeta terhadap pemimpin otokratis negara itu. Perusahaan-perusahaan yang terkait dengan Wagner dilaporkan memiliki kontrol substansial atas pertambangan emas dan berlian di negara itu, serta hak-hak kehutanan.
Meskipun estimasi bervariasi, pendapatan Wagner di Republik Afrika Tengah cukup besar: Sebuah kabel diplomatik yang diperoleh Politico awal tahun ini menunjukkan bahwa keuntungan pertambangan Wagner bisa mencapai USD1 miliar, sementara CBS memperkirakan bisnis kehutanan yang terkait dengan Wagner menghasilkan pendapatan hampir USD1 miliar dan satu tambang emas bisa menghasilkan hingga USD2,7 miliar.
Kemudian di Sudan, Prigozhin juga menjalankan usaha serupa yang menargetkan hak-hak pertambangan emas melalui sebuah perusahaan yang diduga dia kendalikan bernama M Invest-pada satu titik di bawah mantan diktator Omar al-Bashir. Menurut Organized Crime and Corruption Reporting Project, pemerintah Sudan melepaskan haknya untuk memiliki 30% anak perusahaan M Invest.
Meskipun al-Bashir tak lagi berkuasa, anak perusahaan M Invest masih menjalankan pabrik pengolahan emas Sudan, demikian yang dilaporkan New York Times. Sementara itu kelompok-kelompok Rusia juga bertanggung jawab atas sebagian besar pasar penyelundupan emas yang membawa emas senilai 1,9 miliar dolar AS dari Sudan pada tahun 2021, demikian yang dilaporkan CNN, akan tetapi Prigozhin menyangkal memiliki hubungan dengan perusahaan tambang emas tersebut.
Di negara Rusia, Prigozhin memulai kariernya di industri katering di negara asalnya, jadi selain kontrak tentara bayaran asing dan hak-hak mineral, entitas-entitas yang terkait dengan Prigozhin menerima uang
"Kontrak pemerintah Rusia yang digelembungkan", demikian dilansir dari Forbes, Senin (26/6/2023).
Perusahaan-perusahaan yang dijalankan oleh Prigozhin mendapatkan setidaknya 3 miliar dolar AS dari 2011 hingga 2019 dalam kontrak pemerintah Rusia yang menyatakan bahwa kontrak itu untuk katering, lapor Current Time, outlet berita yang didukung oleh pemerintah AS.
(Feby Novalius)