Noerijah sempat ditimpa musibah ketika Jepang mulai menginvasi Indonesia. Dia beserta keluarga besarnya yang mengungsi jauh dari tempat tinggal mulai terpecah.
Kondisi itu diperparah dengan penjarahan yang terjadi pada kompleks perumahan keluarganya di Tegalgendu.
Usai konflik mereda, pasokan berlian yang disimpan dan dititipkan ke pihak asing ternyata tidak kunjung kembali. Saudagar Kalang yang sedari dulu sudah akrab dengan kekeratonan Jawa Tengah akhirnya terus melanjutkan loyalitasnya dengan selalu mendukung kesultanan Yogyakarta di bawah pimpinan langsung Noerijah.
Terbukti ketika pemerintahan Republik Indonesia sempat dipindahkan ke Yogyakarta saat Belanda kembali melakukan agresi militer pada 1948, Noerijah bersama Sultan Hamengkubuwono IX bersedia memberikan perlindungan dan bantuan dana. Tercatat Noerijah menyumbang hartanya ke kas negara sebesar 6.000 gulden (mata uang Belanda sebelum berganti ke euro yang berupa kepingan emas).
(Feby Novalius)