Fragmentasi tersebut dikhawatirkan menjadi pemicu banyak negara menciptakan blok-blok regional sendiri.
“Oleh karena itu, on-shoring menjadi friends-shoring dan hal ini menciptakan dinamika perdagangan dan investasi yang sangat berbeda,” jelas Bendahara Negara itu.
Tantangan kedua, yaitu ketika negara-negara memprioritaskan kepentingan masing-masing dibandingkan tindakan kolektif, terdapat risiko terkikisnya struktur tata kelola global. Proteksionisme itu akan berimbas pada terhambatnya perdagangan internasional.
Lebih lanjut, Sri Mulyani juga menjelaskan fenomena baru yang dinamakan tekno-nasionalisme di negara-negara maju yang menjadi ancaman terhadap kerja sama multilateral.
Hal itu dipicu oleh kekhawatiran terhadap kedaulatan ekonomi, dominasi teknologi, dan keamanan nasional sehingga negara-negara tersebut bersaing untuk menjadi yang paling maju dalam pemanfaatan teknologi.
"Contohnya Tech Cold War antara Tiongkok dan US yang mendorong kemajuan inovasi domestik, kontrol terhadap ekspor dan membatasi transfer teknologi ke negara lain," ujarnya.
Di tengah tekanan fragmentasi geoekonomi, Indonesia terus menunjukkan kinerja yang relatif stabil dan baik. Sri Mulyani menyampaikan hal itu tercermin dari perekonomian Indonesia yang tumbuh sekitar 5% dalam delapan kuartal terakhir. Kebijakan fiskal terbukti efektif memainkan peran penting untuk meredam guncangan, menjaga stabilitas nasional sekaligus mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang solid.
"Indonesia terus memainkan peran konstruktif meskipun lanskap global sangat sulit dan menantang serta terus berubah. Sesuai dengan konstitusi, kami akan terus memainkan peran konstruktif dengan memastikan bahwa dunia akan terus dibangun berdasarkan perdamaian, kedaulatan dan kesetaraan," katanya.
(Taufik Fajar)