Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Utang Luar Negeri Indonesia Turun Dibayar Jokowi, Ternyata Ada Peran Investor Asing

Nekha Fatimah Nursadiyah , Jurnalis-Kamis, 20 Juni 2024 |04:18 WIB
Utang Luar Negeri Indonesia Turun Dibayar Jokowi, Ternyata Ada Peran Investor Asing
Utang Luar Negeri Indonesia Menurun. (Foto: Okezone.com/Freepik)
A
A
A

“Investor itu yang penting kan cuan (uang), ketika investor mencari keuntungan yang diinginkan mereka pasti mencari instrumen yang dia lebih cuan bagi mereka. Ketika suku bunga BI meningkat kemudian The Fed rate tidak turun, otomatis sebenarnya pasar SBN tidak menjadi menarik bagi para investor, terlebih ketika SBN (pemerintah Indonesia) oleh lembaga pemeringkat utang seperti Fitch Rating misalnya turun," ungkapnya.

Dia juga menyoroti penurunan ULN sektor swasta sebagai sebuah kejanggalan. Ketika berutang, sektor swasta biasanya akan fokus pada ekspansi dan investasi, namun kondisi bisnis yang sedang tidak menguntungkan saat ini mungkin menjadi alasan utama penurunan tersebut.

“Memang bisa dibilang kalau swasta mau ekspansi dia membutuhkan modal, ketika ada banyak investor luar yang ingin berinvestasi di sektor swasta di Indonesia itu pasti menunjukkan dunia usaha di dalam negeri baik. Jadi istilahnya swasta digenjot utang untuk bisa berekspansi,” katanya.

Sementara itu seorang ekonom Bank Permata Josua Pardede, menyampaikan pandangan serupa. Menurutnya, ketidakpastian global, terutama situasi geopolitik di Timur Tengah yang masih belum stabil, mendorong investor asing untuk mencari aset yang lebih aman untuk diinvestasikan.

“Tetapi kalau kita lihat situasinya, suku bunga global masih relatif tinggi sehingga pada saat tensi geopolitiknya masih dominan dan suku bunga masih relatif tinggi, memang ada kecenderungan investor asing akan shifting ke safe haven asset terutama USD. Makanya kepemilikan investor asing di obligasi pemerintah itu dikategorikan sebagai utang,” ujar Josua.

Menurutnya, penurunan ULN di sektor swasta mencerminkan kurangnya ekspansi atau investasi yang agresif, yang disebabkan oleh tingginya suku bunga global dan ketidakpastian ekonomi saat ini.

Josua juga menyoroti perlunya pemerintah untuk memperhatikan rasio ULN yang menurun ini secara keseluruhan. Dia menekankan bahwa pemerintah perlu mencari sumber pembiayaan alternatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di masa mendatang.

“Kalau misalkan kita bisa mendapatkan pembiayaan untuk menutupi APBN untuk belanja pemerintah bisa dipenuhi dengan pajak, artinya kita tidak perlu menerbitkan lagi global bond sehingga tidak tercatat, dan rasio ULN bisa turun lagi, dan itu sebenarnya bagus,” tegasnya.

Tetapi, jika pemerintah menghadapi situasi di mana pengeluaran cenderung meningkat namun penerimaan pajak terbatas, maka pemerintah harus tetap mengandalkan penerbitan utang. Josua menegaskan jika pemerintah berencana untuk mengambil utang tambahan di masa depan, struktur utang tersebut harus diperhatikan dengan baik.

Baca selengkapnya: Utang Luar Negeri Indonesia Turun Jadi Rp6.492 Triliun, Kapan Bisa Lunas?

(Feby Novalius)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement