Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Utang Luar Negeri RI Rp8.000 Triliun, Purbaya: Di Dalam Negeri Udah Ribut

Anggie Ariesta , Jurnalis-Kamis, 16 Juli 2026 |11:26 WIB
 Utang Luar Negeri RI Rp8.000 Triliun, Purbaya: Di Dalam Negeri Udah Ribut
Utang Luar Negeri RI Rp8.000 Triliun, Purbaya: Di Dalam Negeri Udah Ribut (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara soal Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia yang naik. Tercatat ULN Indonesia naik menjadi USD444,4 miliar atau setara Rp8.031,6 triliun (kurs Rp18.073 per dolar AS) di Mei 2026. 

Angka utang ini naik 2,1 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada April 2026 sebesar 2,0 persen.

Menurut Purbaya, posisi utang luar negeri Indonesia saat ini masih berada dalam kondisi yang aman serta terkendali dengan rasio 40 persen.

"Jadi kita kalau pakai di fiskal itu kan di bawah 60 persen, harusnya di bawah 60 persen kita masih 40 persen jadi masih jauh dari ininya. Itu ukuran dari kesinambungan utang yang memakai standar yang paling strict di dunia, Maastricht Treaty itu," kata Purbaya di Istana Kepresidenan, Rabu (15/7/2026) malam.

Purbaya menegaskan, besarnya nilai nominal ULN tersebut sama sekali tidak bisa dipakai sebagai satu-satunya tolok ukur tunggal untuk menilai tingkat keamanan fiskal Indonesia.

Menurutnya, indikator kesehatan keuangan negara wajib dihitung berdasarkan perbandingan ukuran kapasitas ekonomi makro, yang salah satunya tecermin lewat rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Formulasi perhitungan rasio ini, lanjut Purbaya, merujuk pada standar baku internasional yang tertuang dalam Maastricht Treaty.

Purbaya memaparkan realita bahwa saat ini banyak negara maju di dunia yang posisinya telah melampaui ambang batas acuan tersebut.

Beberapa contoh di antaranya adalah Amerika Serikat (AS) yang rasio utangnya sudah menembus angka 100 persen, Singapura sebesar 175 persen, Jepang yang menyentuh level 275 persen, serta Jerman yang berada di kisaran 60-an persen.

"Jadi kalau melihat kondisi keamanan fiskal suatu negara ya harus datang dengan acuan-acuan yang pas," tegasnya.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement