"Selama ini kan pemerintah kalau kepentok mencari sumber pembiayaan dari setiap sektor-sektor yang ada, selama ini susah kan. Pemerintah akan menggunakan, misalnya terakhir subsidi BBM itu yang kemudian diutak-atik atas nama apapun,“ kata manajer riset Seknas Fitra, Badiul Hadi.
Kekhawatiran serupa disampaikan oleh M Rizal Taufikurahman, yang menjabat sebagai kepala pusat makroekonomi dan keuangan di Institute for Development of Economics and Finance (Indef).
"Ya akan tarik-tarikan [anggaran] kan pada akhirnya, yang tentu akan berpengaruh terhadap kinerja dari kementerian itu sendiri,“ kata Rizal.
Sementara Prabowo optimis dengan komposisi kabinetnya, para ekonom memperingatkan bahwa penambahan kementerian justru dapat mengganggu efisiensi dan sinkronisasi program kerja. Apakah kabinet gemuk ini akan menjadi solusi inovatif bagi tantangan Indonesia, atau justru memperparah masalah yang ada? Waktu yang akan menjawab.
Baca Selengkapnya: Anggaran Gaji-Tunjangan 108 Calon Menteri, Wakil dan Kepala Badan di Kabinet Prabowo Bertambah Jadi Rp65 Triliun?
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.