JAKARTA - Harta kekayaan Max Ruland Boseke, mantan pejabat Basarnas pakai uang korupsi beli ikan arwana. Mantan Sekretaris Utama Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Max Ruland Boseke, tengah menjadi sorotan setelah terungkap keterlibatannya dalam kasus korupsi pengadaan truk angkut personel dan rescue carrier vehicle di Basarnas.
Kasus ini tidak hanya merugikan negara hingga Rp20,4 miliar, tetapi juga mengungkap gaya hidup mewahnya, termasuk pembelian ikan arwana super red seharga Rp40 juta menggunakan uang hasil korupsi.
Max Ruland Boseke memulai kariernya di Basarnas sejak 1975 sebagai Staf Subbidang Operasi. Kariernya terus menanjak hingga menduduki berbagai posisi strategis, seperti Kabag Pengangkatan, PSG, Ksb. Organisasi dan Tata Laksana, hingga akhirnya diangkat menjadi Sekretaris Utama Basarnas.
Dia sempat dipindahkan ke Kementerian Perhubungan sebagai Kepala Pusat Litbang Perhubungan Darat sebelum kembali ke Basarnas pada 2009. Setelah pensiun, Max Ruland Boseke beralih ke dunia bisnis dengan mendirikan PT Anugerah Mulia Selaras dan menjabat sebagai Direktur Utama, serta menjadi Komisaris Utama di beberapa perusahaan lain.
Selain itu, dia juga dikenal pernah mengajar sebagai dosen Ilmu Kewarganegaraan dan menerima sejumlah penghargaan dari pemerintah, termasuk Satyalancana Karya Satya atas pengabdiannya sebagai pegawai negeri sipil (PNS) selama 20 dan 30 tahun, serta Satyalencana Wira Karya.
Kasus ini bermula dari dugaan korupsi proyek pengadaan truk angkut personel dan rescue carrier vehicle di Basarnas pada tahun anggaran 2012-2018. Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkapkan bahwa Max Ruland Boseke menerima dana korupsi sebesar Rp2,5 miliar dan turut memperkaya pihak lain hingga Rp17,9 miliar, dengan total kerugian negara mencapai Rp20,4 miliar berdasarkan audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
Dalam persidangan, Max Ruland Boseke mengakui bahwa sebagian dari uang tersebut digunakan untuk membeli ikan arwana super red seharga Rp40 juta. Uang itu berasal dari dana yang disebut sebagai "dana komando".