Faktor kedua yang membedakan adalah waktu perayaan Idul Fitri pada Kuartal I 2025 jatuh di tanggal 31 Maret 2025, sementara libur panjangnya jatuh di bulan April, yang dimana bulan April itu masuk pada Kuartal II. Hal ini menyebabkan sebagian besar dampak ekonomi dari libur panjang Idul Fitri tidak tercatat dalam kinerja Kuartal I 2025.
"Sehingga momen hari pertama Idul Fitrinya jatuh di triwulan I, tetapi H+2, H+3 dan liburan selanjutnya itu tidak terekam dalam momen Idul Fitri, maaf tidak terekam dalam triwulan I 2025, yang libur panjangnya itu nanti terekam di triwulan II 2025," imbuhnya.
Selain itu, dari sisi produksi, Amalia menyoroti sektor industri pengolahan yang memiliki share 19,25 persen dan tumbuh 4,55 persen sebagai faktor yang memengaruhi pertumbuhan Kuartal I 2025.
Ia menekankan perlunya analisis lebih mendalam untuk mengidentifikasi sub-sektor industri pengolahan mana yang menjadi pendorong utama pertumbuhan dan mana yang mengalami perlambatan.
Terakhir, Amalia kembali menegaskan perbedaan signifikan antara Kuartal I 2024 dan 2025 dari sisi pengeluaran pemerintah.
"Pada sisi pengeluaran, faktor yang mempengaruhi pertumbuhan triwulan I 2025 sebesar 4,87 persen, saya sudah sampaikan dimana Kuartal I 2024 ini, kita ada masa pemilu yang di triwulan I ini tidak ada," pungkasnya.
Dengan demikian, kontraksi pada konsumsi pemerintah akibat tidak adanya Pemilu menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi Kuartal I 2025 sedikit lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, meskipun ada momen Ramadan dan awal Idul Fitri.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.