Dia menilai, Danantara bisa punya ruang gerak yang lebih luas terkait penyehatan utang kereta cepat. Terutama kaitannya dalam pengembangan kawasan, atau pemanfaatan aset-aset lahan whoosh. Sehingga tidak sekedar mengandalkan pendapatan organik dari okupansi penumpang.
"Pengembangan kawasan otomatis iya (penambahan investasi Danantara) kan misalnya juga beberapa (perusahaan) yang masuk dalam konsorsium KCIC itu juga kan sudah punya akses. Misal ada WIKA, dia punya konsesi pengembangan TOD di Halim misalnya, dan lainnya," kata Toto.
"Itu kan bisa mulai dari jaringan properti atau pusat-pusat kawasan industri, atau apapun lah, sehingga Whoosh ini bisa mengenerate income lebih banyak, bukan sekadar lintasan yang kemudian tidak bisa dimanfaatkan," pungkasnya.
Sebelumnya, dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VI DPR RI, yang membidangi perdagangan dan BUMN, di Jakarta, Rabu (20/8), Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin mengusulkan restrukturisasi proyek Whoosh.
“Kami dalami juga masalah KCIC, memang ini bom waktu. Kami akan koordinasi dengan Danantara untuk penyelesaian KCIC ini, selanjutnya untuk perbaikan dan restrukturisasi dari portofolio-portofolio yang ada,” ucap Bobby.