Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

5 Fakta Purbaya Ancam Bekukan Bea Cukai dan Rumahkan 16.000 Pegawai

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Minggu, 30 November 2025 |06:01 WIB
5 Fakta Purbaya Ancam Bekukan Bea Cukai dan Rumahkan 16.000 Pegawai
5 Fakta Purbaya Ancam Bekukan Bea Cukai dan Rumahkan 16.000 Pegawai (Foto: Kemenkeu)
A
A
A

JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengancam akan membekukan Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) jika gagal memperbaiki kinerja. 

Purbaya telah meminta waktu satu tahun kepada Presiden Prabowo Subianto untuk membenahi kinerja dan citra Bea Cukai. Namun, jika perbaikan kinerja gagal akan berimbas kepada 16.000 pegawai Bea Cukai.

"Saya bilang dengan mereka, saya sudah minta waktu Presiden, satu tahun untuk tidak diganggu dulu. Biarkan saya bereskan, (berikan) waktu saya untuk memperbaiki Bea Cukai,” kata Purbaya usai Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI, Kamis (27/11/2025).

Berikut ini Okezone rangkum fakta-fakta Purbaya ancam bekukan Bea Cukai dan rumahkan 16.000 pegawai, Jakarta, Minggu (30/11/2025).

1. Purbaya Akui Citra Bea Cukai Terpuruk

Purbaya mengakui, saat ini citra Bea dan Cukai sedang terpuruk di mata media, masyarakat, dan bahkan pimpinan negara, akibat kasus serius yang melibatkan oknum pegawainya.

"Saya bilang begini, image Bea Cukai kurang bagus di media, di masyarakat, di pimpinan yang tertinggi kita. Jadi kita harus perbaiki dengan serius," kata Purbaya.

2. Purbaya Ungkap Masalah di Bea Cukai

Purbaya menyebutkan sejumlah permasalahan di Bea Cukai yang memang medesak untuk segera dilakukan perbaikan. "Ada under-invoicing ekspor yang nilainya lebih rendah. Ada juga barang-barang yang ilegal masuk yang enggak ketahuan segala macam. Orang kan nuduh, katanya Bea Cukai main segala macam," kata Purbaya.

Purbaya menegaskan belum tahu menahu mengenai tuduhan yang dialamatkan kepada Bea dan Cukai tersebut. Tetapi dirinya punya catatan sendiri hasil dari investigasi internal Kemenkeu.

"Jadi gini yang ada pencatatan, kita sudah investigasikan ada katanya ekspor dari mana? Chinanya besar apa, total ekspornya enggak sama dengan total impornya gitu. Dari China ke Indonesia atau dari Indonesia ke Cina," kata Purbaya.

"Tapi ada jalan yang sebagian dari China tuh ke Singapura, baru Singapura ke Indonesia. Kalau orang pakai UN.com trade database, kalau cuma lihat satu sisi aja, itu enggak pas. Tapi kalau kita gabung yang sini sama yang sini ke sini itu akan sama. Jadi bedanya enggak banyak. Hanya beda CIF, FOB aja. Jadi antara ekspor sampai impor aja pengitungannya," tuturnya

Purbaya menegaskan akan melakukan investigasi lebih lanjut perihal temuan tersebut. "Untuk semua jenis ekspor, apakah seperti itu? Atau apakah ada penggelapan? Ini masih kita kerjakan manual. Nggak lama lagi kita akan kerjakan pakai AI. Jadi akan lebih cepat," kata Purbaya.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement