“PMI manufaktur Indonesia memang melandai ke 51,2 pada Desember, namun masih berada di zona ekspansi, dengan permintaan domestik tetap menjadi penopang utama,” ujarnya. Dari sisi aliran dana,
“Investor asing mencatatkan arus masuk bersih sekitar Rp1,1 triliun ke pasar saham, sementara imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun ke 6,05%, mencerminkan meningkatnya kepercayaan terhadap stabilitas makro Indonesia,” terang Andry.
Dengan kombinasi penguatan pasar saham, masuknya dana asing, serta penurunan yield obligasi, Indonesia dinilai memulai 2026 dari posisi yang kuat.
Dukungan kebijakan yang kredibel, permintaan domestik yang solid, dan valuasi pasar yang masih atraktif membuat Indonesia semakin dipandang sebagai tujuan investasi utama di Asia Tenggara, bukan sekadar reli jangka pendek, melainkan fase penguatan yang lebih berkelanjutan.
(Feby Novalius)