Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Indonesia-Korea Perkuat Bioenergi dan Rantai Pasok Biomassa 

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Selasa, 06 Januari 2026 |14:10 WIB
Indonesia-Korea Perkuat Bioenergi dan Rantai Pasok Biomassa 
Indonesia-Korea Perkuat Bioenergi dan Rantai Pasok Biomassa (Foto: PLN EPI)
A
A
A

JAKARTA - Indonesia dan Korea Selatan mengembangkan biomassa. Kerja sama ini diarahkan untuk mendukung program cofiring PLTU, penguatan rantai pasok biomassa berkelanjutan, serta pengembangan riset karbon rendah sebagai bagian dari upaya pencapaian target penurunan emisi dan Net Zero Emissions 2060.

Hal ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara PLN EPI dan perusahaan konsultan asal Korea Selatan, Greenery Inc. Melalui MoU ini, kedua pihak sepakat membangun kerangka kerja sama pengembangan biomassa, riset teknis, peningkatan kualitas bahan bakar, hingga eksplorasi kerja sama internasional penurunan emisi, termasuk peluang mekanisme karbon lintas negara.

‎Direktur Bioenergi PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan, biomassa memiliki peran strategis sebagai solusi transisi energi karena dapat langsung diimplementasikan menggunakan infrastruktur pembangkit eksisting. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada kepastian pasokan dan tata kelola yang kuat.

‎"Bioenergi, khususnya biomassa, bukan sekadar bahan bakar pengganti, tetapi bagian dari strategi besar transisi energi. Karena itu, pasokan harus berkelanjutan, bernilai tambah, dan dikelola dengan tata kelola yang kuat,” ujar Hokkop di Jakarta, Selasa (6/1/2026).

Dia menambahkan bahwa kerja sama dengan Greenery membuka ruang percepatan transfer teknologi dan pengembangan produk biomassa bernilai ekonomi. Menurutnya, residu pertanian dan produk antara tidak boleh diperlakukan sebagai limbah semata.

‎"Produk seperti biomassa dan turunannya harus dikapitalisasi menjadi produk bernilai tambah, tidak hanya untuk energi, tetapi juga untuk pangan dan industri bioenergi. Ini sejalan dengan kebutuhan pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional,” kata Hokkop.

‎Dari sisi riset, Leader of Research Group for Industrial Sustainability & Product Optimization BRIN Dudi Iskandar menekankan pentingnya kolaborasi agar riset karbon rendah tidak berhenti di laboratorium.

‎“Sebagai organisasi riset, tugas utama kami adalah menghasilkan inovasi yang bisa diimplementasikan. Tanpa kolaborasi dengan PLN EPI, mitra internasional, dan universitas, riset tidak akan memberi dampak nyata,” ujarnya.

‎Dudi menjelaskan bahwa kolaborasi ini mencakup pengembangan teknologi karbon rendah, kajian ekonomi karbon, serta sistem pengukuran emisi yang terukur untuk mendukung kebijakan pemerintah.

‎“Riset ini diharapkan membantu pemerintah memahami strategi pengurangan emisi yang terukur, sekaligus membuka peluang nilai tambah ekonomi dari pengelolaan karbon,” katanya.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement