Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rating ESG Kian Diperhitungkan, Ini Dampaknya bagi Perusahaan

Feby Novalius , Jurnalis-Rabu, 28 Januari 2026 |13:10 WIB
Rating ESG Kian Diperhitungkan, Ini Dampaknya bagi Perusahaan
ESG Risk Rating merupakan sistem penilaian untuk mengukur tingkat paparan perusahaan terhadap risiko lingkungan, sosial. (Foto: Okezone.com/Freepik)
A
A
A
Anggota Dewan Pengawas Komunitas Profesional Keberlanjutan (IS2P) ini kemudian mengurai tiga pendekatan yang dipakai untuk menilai ESG Risk Rating sebuah perusahaan. Pertama, impact materiality, yakni aktivitas perusahaan yang berdampak pada masyarakat dan planet Bumi seperti polusi udara dan gas rumah kaca.

Kedua, double materiality yang terdiri dari dua bagian. Pertama, inside-out (dari dalam ke luar), di mana perusahaan mengidentifikasi dan mengelola dampak operasional internalnya terhadap lingkungan dan masyarakat (misalnya emisi limbah dan kondisi kerja) sebagai bagian integral dari strategi bisnisnya, bukan hanya sebagai kepatuhan. Kedua, outside-in (dari luar ke dalam) yang fokus pada bagaimana faktor eksternal memengaruhi perusahaan.

“Dalam konteks ini, perusahaan harus proaktif dalam mengatasi risiko sosial dan lingkungan dari dalam organisasi guna menciptakan nilai jangka panjang dan reputasi, serta menghindari kerugian finansial,” ujar Sonny.

Terakhir, kata dia, adalah financial materiality, di mana faktor-faktor eksternal seperti iklim dan keberlanjutan dapat memengaruhi performa keuangan perusahaan, “seperti perubahan regulasi dan disrupsi akibat cuaca ekstrem,” tuturnya.

Sonny mewanti-wanti bahwa apa pun stempel ESG Risk Rating yang melekat pada perusahaan tidak akan ada gunanya tanpa perusahaan memahami prinsip outside-in dan inside-out. Sebab, ESG Risk Rating yang ada saat ini menilai impact dan financial materiality. “Apa yang dilakukan perusahaan secara inside-out dan outside-in itulah yang dinilai oleh lembaga pemeringkat,” ujarnya.

Masalahnya, kata Sonny, setiap lembaga pemeringkat memiliki scope of topic atau cakupan bahasan yang berbeda-beda.

“Nah, perusahaan harus ikut yang mana? Tentu saja harus ikut yang diinginkan oleh investornya. Investor maunya yang mana?” ujarnya.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement