JAKARTA – Implementasi Green Terminal di Terminal LPG Tanjung Sekong, Cilegon, Banten, mulai dilaksanakan sebagai langkah penting dalam memperkuat praktik ESG (Environmental, Social, and Governance) serta pengembangan ekosistem energi rendah karbon. Proyek ini juga membuka peluang untuk pertumbuhan bisnis baru yang berbasis pada energi hijau.
Green Terminal dirancang sebagai skema sertifikasi fasilitas pelabuhan dengan fokus pada delapan pilar keberlanjutan. Pilar-pilar tersebut mencakup sistem manajemen lingkungan, infrastruktur berstandar internasional, digitalisasi operasional, teknologi ramah lingkungan, ekonomi sirkuler, pengendalian kualitas lingkungan, perlindungan biodiversitas, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM). Penerapan standar ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkuat daya saing sektor energi nasional dalam menghadapi pasar global yang semakin mengutamakan praktik bisnis berkelanjutan.
Menurut Direktur Transformasi & Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono, proyek Green Terminal ini menjadi bagian dari pengembangan ekosistem energi hijau serta implementasi Roadmap Net Zero Emission (NZE) 2060.
"Inisiatif ini juga sebagai upaya memperkuat daya saing perusahaan dalam menghadapi tuntutan global terhadap praktik bisnis yang lebih bertanggung jawab," ujarnya,
Sabtu (14/2/2026).
Terminal LPG Tanjung Sekong dipilih sebagai proyek percontohan mengingat peran strategisnya dalam infrastruktur energi nasional. Terminal ini berkontribusi sekitar 35–40 persen terhadap kebutuhan LPG nasional dengan kapasitas penyimpanan 98.000 metrik ton dan dermaga yang dapat menampung kapal hingga 65.000 DWT. Transformasi terminal ini menjadi Green Terminal diharapkan dapat memperkuat fondasi keberlanjutan bagi salah satu aset energi paling vital di Indonesia.
Sebagai mitra logistik dalam proyek ini, Doni Indrawan, Direktur Utama PT Elnusa Petrofin, menyampaikan bahwa perusahaan berperan dalam mendukung distribusi Green Hydrogen yang diproduksi oleh PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) dari panas bumi Ulubelu. Green Hydrogen tersebut akan digunakan untuk mendukung operasional pembangkit listrik rendah karbon di Tanjung Sekong, yang mencerminkan sinergi antara hulu dan hilir dalam ekosistem energi bersih.
Pemanfaatan pembangkit listrik berbasis Green Hydrogen ini diperkirakan dapat memenuhi hingga 25 persen kebutuhan listrik operasional terminal dan menurunkan emisi tidak langsung (Scope 2). Ini menjadi langkah awal bagi Elnusa Group untuk memperluas kapabilitas logistik energi bersih dan membuka peluang untuk pendapatan berulang di sektor transisi energi.
Dengan kolaborasi lintas entitas dalam proyek Green Terminal ini, diharapkan Tanjung Sekong dapat menjadi model infrastruktur energi rendah karbon yang mendukung ketahanan energi nasional dan turut memperkuat kontribusi sektor energi dalam era transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan.
(Feby Novalius)