Langkah ini sangat strategis karena Indonesia memiliki cadangan bauksit yang besar secara global. Data Badan Geologi ESDM menunjukkan
bahwa Indonesia memiliki sumber daya bauksit sekitar 7,48 miliar ton dan cadangan sekitar 2,78 miliar ton, menjadikan komoditas ini aset penting dalam pembangunan industri aluminium nasional.
Namun selama bertahun-tahun, potensi tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi manfaat ekonomi dan sosial yang optimal. Sebagian besar nilai tambah justru dinikmati di luar negeri, sementara peluang kerja di dalam negeri terbatas.
Melalui hilirisasi terpadu, paradigma itu berubah. Kini, bauksit tidak lagi sekadar ditambang dan dikirim keluar negeri, tetapi diolah menjadi alumina dan aluminium di dalam negeri, menciptakan rantai industri yang lebih panjang, lebih bernilai, dan lebih banyak menyerap tenaga kerja.
Kebutuhan aluminium nasional saat ini mencapai sekitar 1,2 juta ton per tahun, dengan sekitar 54 persen masih dipenuhi melalui impor. Hilirisasi menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan tersebut sekaligus memperkuat kemandirian industri nasional.
Lebih dari itu, hilirisasi membuka jalan bagi industrialisasi lanjutan dari aluminium sebagai bahan baku hingga produk jadi bernilai tinggi, seperti komponen kendaraan listrik, infrastruktur energi, dan industri manufaktur modern.
Eddy menegaskan, manfaat hilirisasi akan semakin besar jika industrialisasi terus dikembangkan hingga tahap produk akhir. “Ketika pemrosesan dan industrialisasi dilakukan di dalam negeri, lapangan kerja tercipta, nilai tambah tinggal di Indonesia, dan manfaat ekonominya dirasakan langsung oleh masyarakat,” katanya.
Di Mempawah, tanah merah itu kini tidak lagi sekadar tanah. Ia telah menjadi simbol perubahan. Simbol bahwa Indonesia memilih untuk berdiri di atas kekuatannya sendiri. Simbol bahwa sumber daya alam Indonesia tidak lagi meninggalkan negeri ini tanpa nilai tambah. Simbol bahwa masa depan industri Indonesia sedang dibangun, oleh bangsa Indonesia, untuk Indonesia.
Melalui hilirisasi, Indonesia sedang membangun lebih dari sekadar smelter dan refinery. Indonesia sedang membangun kedaulatan. Indonesia sedang membangun martabat industri. Indonesia sedang membangun masa depan. Dari tanah merah Kalimantan Barat, lahirlah fondasi bagi Indonesia sebagai kekuatan industri dunia.
(Dani Jumadil Akhir)