Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Harga Minyak Dunia Sentuh Level Tertinggi Sejak 2022, Brent Dibanderol USD98,9

Feby Novalius , Jurnalis-Selasa, 10 Maret 2026 |07:57 WIB
Harga Minyak Dunia Sentuh Level Tertinggi Sejak 2022, Brent Dibanderol USD98,9
Harga minyak dunia melonjak sekitar 7% pada perdagangan Senin dan ditutup di level tertinggi sejak 2022. (Foto: Okezone.com/SKK Migas)
A
A
A

JAKARTA — Harga minyak dunia melonjak sekitar 7% pada perdagangan Senin dan ditutup di level tertinggi sejak 2022. Kenaikan tersebut dipicu oleh pemangkasan pasokan minyak oleh Arab Saudi dan anggota OPEC di tengah konflik Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.

Namun, tak lama setelah penutupan pasar, harga minyak berbalik melemah menyusul kabar percakapan telepon antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Harga turun lebih dari 5% setelah penutupan perdagangan, setelah pemerintahan Trump mempertimbangkan pelonggaran sanksi lebih lanjut terhadap minyak Rusia untuk membantu mengendalikan harga energi global.

Sebelumnya, Putin mengatakan Moskow siap memasok minyak dan gas alam ke Eropa. Demikian dilansir dari Reuters, Selasa (10/3/2026). 

Secara terpisah, Trump mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa perang melawan Iran berjalan sangat lancar dan bahwa Washington jauh lebih maju dari perkiraan awal selama empat hingga lima minggu.

Selama sesi perdagangan Senin, harga sempat melonjak hingga 29%. Pada penutupan, harga Brent berjangka naik USD6,27 atau 6,8% menjadi USD98,96 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik USD3,87 atau 4,3% menjadi USD94,77 per barel.

Itu merupakan harga penutupan tertinggi untuk Brent dan WTI sejak Agustus 2022. Bahkan setelah harga turun pasca-penutupan, kedua patokan tersebut masih naik lebih dari 35% sejak perang Iran dimulai.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia buka suara terkait harga minyak dunia yang melonjak hingga USD100 per barel atau melampaui asumsi APBN di angka USD70 per barel.

 

Ia mengatakan peningkatan harga minyak tersebut merupakan dampak dari eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang menyebabkan penutupan Selat Hormuz. Selat ini menjadi jalur perdagangan energi global dengan pangsa sekitar 20%.

"Memang kalau kita melihat, posisi harga minyak dunia sekarang sudah melampaui USD100 per barel. Inilah yang terjadi di global akibat dampak dari perang Iran melawan Israel dan Amerika," ujarnya.

Bahlil mengatakan ketersediaan stok BBM nasional tidak menjadi masalah meski hanya mencukupi hingga 21 hari. Justru yang perlu menjadi perhatian serius adalah dampak kenaikan harga yang telah melampaui asumsi makro APBN. Kondisi ini praktis mengancam anggaran subsidi yang membengkak jika harus menutup kekurangan yang lebih besar.

"Problem kita sekarang bukan stok. Stok tidak ada masalah, sudah ada semua. Kita sekarang tinggal di harga. Nah, kita sekarang sedang meng-exercise untuk melakukan langkah yang komprehensif," sambungnya.

(Feby Novalius)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement