JAKARTA - Kementerian Keuangan mencatat realisasi pembiayaan utang mencapai Rp185,3 triliun hingga akhir Februari 2026. Angka ini setara 22,3 persen dari total target pembiayaan utang dalam APBN 2026 yang dipatok sebesar Rp832,2 triliun.
Penarikan utang mayoritas dilakukan melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) guna memenuhi kebutuhan belanja negara yang mengalami akselerasi di awal tahun. Selain itu, pemerintah juga merealisasikan pembiayaan non-utang senilai Rp21,1 triliun atau 14,7 persen dari pagu anggaran.
Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, menjelaskan postur pembiayaan anggaran tahun ini masih sangat terjaga dan dikelola dengan prinsip kehati-hatian.
“Strategi pembiayaan dilakukan secara antisipatif untuk memastikan ketersediaan kas tetap memadai sekaligus menjaga fleksibilitas pembiayaan dalam merespons dinamika pasar,” ujar Juda dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Maret 2026, Rabu (11/3/2026).
Pasar SBN domestik masih menjadi penopang utama pembiayaan. Tingginya minat investor terlihat dari rasio bid to cover pada lelang Surat Utang Negara (SUN) yang konsisten di atas dua kali, bahkan mencapai 3,1 kali untuk Sukuk Negara (SBSN).
Juda menilai pencapaian ini lebih positif dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, yang menandakan ketangguhan ekonomi nasional di mata para pemodal.
“Ini menunjukkan bahwa minat dan kepercayaan investor terhadap fundamental perekonomian Indonesia masih terjaga di tengah dinamika pasar keuangan global yang penuh ketidakpastian,” jelasnya.
Investor asing pun menunjukkan ketertarikan yang kuat, dengan rasio bid to cover SUN oleh investor asing mencapai 2,4 kali dan SBSN sebesar 2,8 kali.