Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

5 Fakta Prabowo dan Purbaya Cs Putar Otak Jaga Defisit APBN Tak Lebih 3 Persen

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Senin, 16 Maret 2026 |08:05 WIB
5 Fakta Prabowo dan Purbaya Cs Putar Otak Jaga Defisit APBN Tak Lebih 3 Persen
5 Fakta Prabowo dan Purbaya Cs Putar Otak Jaga Defisit APBN Tak Lebih 3 Persen (Foto: Setkab)
A
A
A

3. Defisit APBN di Bawah 3 Persen Sulit Dipertahankan

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan tantangan berat dalam menjaga postur APBN 2026. Airlangga melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa ambang batas defisit 3 persen kini sangat sulit untuk dipertahankan akibat gejolak geopolitik global.

Menurut Airlangga, menjaga defisit tetap di bawah 3 persen akan membawa konsekuensi besar terhadap rencana pembangunan nasional.

"Artinya berbagai skenario defisit sulit dipertahankan kecuali kita mau memotong belanja dan pertumbuhan," kata Airlangga dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jumat (13/3/2026).

Pemerintah telah menyiapkan tiga simulasi berdasarkan fluktuasi harga minyak mentah dan nilai tukar Rupiah yang terus mengalami tekanan.

Skenario Pertama, harga minyak USD86 per barel dengan kurs Rp17.000 per dolar AS. Dalam kondisi ini, pertumbuhan ekonomi diperkirakan 5,3 persen, tingkat bunga SBN 7,2 persen, dan defisit mencapai 3,18 persen.

Skenario Kedua, harga minyak melonjak ke USD97 per barel dengan kurs Rp17.300 per dolar AS. Pertumbuhan ekonomi diprediksi melambat ke 5,2 persen dengan angka defisit membengkak menjadi 3,53 persen.

Skenario Ketiga (Terburuk) harga minyak menembus USD115 per barel dengan kurs Rp17.500 per dolar AS. Pada titik ini, angka defisit diperkirakan melonjak tajam hingga 4,06 persen.

Mengingat risiko fiskal yang besar, Airlangga menekankan perlunya tindak lanjut melalui koordinasi yang lebih spesifik. "Ini beberapa skenario yang perlu kita rapatkan secara terbatas," tambah Airlangga.

4. Banggar DPR Buka Suara

Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR Said Abdullah menegaskan bahwa defisit APBN tetap akan dijaga di bawah batas 3 persen dari PDB sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Keuangan Negara. Menurut Said, DPR melalui Banggar berkomitmen untuk tetap mematuhi kerangka kebijakan fiskal yang telah diatur dalam undang-undang, termasuk terkait batas defisit anggaran negara.

“Sebagai Ketua Banggar, kami patuh terhadap Undang-Undang APBN dan Undang-Undang Keuangan Negara. Batas defisit kita 3 persen dari PDB, dan saya tidak pernah punya pikiran untuk melampaui batas itu,” ujar Said di Gedung Nusantara, DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Dia menjelaskan bahwa hingga saat ini kondisi fiskal Indonesia masih berada dalam koridor yang relatif aman. Banggar memperkirakan defisit APBN masih dapat dijaga di kisaran 2,8 persen dari PDB, sehingga tidak ada skenario yang mengarah pada pelampauan batas defisit yang telah ditetapkan.

“Saya kira defisit kita masih bisa dijaga di sekitar 2,8 persen. Kita tidak perlu khawatir berlebihan selama pengelolaan fiskal dilakukan secara disiplin,” jelasnya.

Said menambahkan bahwa berbagai dinamika global, termasuk gejolak geopolitik dan fluktuasi harga minyak dunia, memang berpotensi memberikan tekanan terhadap perekonomian. Namun demikian, ia menilai pemerintah memiliki ruang kebijakan yang cukup untuk melakukan mitigasi terhadap berbagai risiko tersebut.

Menurutnya, pemerintah perlu memperkuat manajemen fiskal melalui penajaman program prioritas serta pengelolaan belanja negara yang lebih efektif. Langkah tersebut diyakini dapat menjaga kesehatan fiskal sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Dia juga menegaskan bahwa kepatuhan terhadap batas defisit bukan hanya persoalan teknis anggaran, tetapi juga menyangkut kredibilitas kebijakan fiskal Indonesia di mata dunia. “Ini juga menjadi sinyal bagi pasar dan investor bahwa fondasi fiskal kita sehat, stabil, dan berkelanjutan,” katanya.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement