Anthony juga menyoroti tren jangka panjang selama satu dekade terakhir. Meski cadangan devisa meningkat dari sekitar USD100 miliar pada 2014 menjadi sekitar USD150 miliar pada Februari 2026, rupiah justru melemah dari kisaran Rp12.000 menjadi Rp17.000 per dolar AS.
Pada dua bulan pertama 2026, lanjut dia, cadangan devisa telah turun sekitar USD4,6 miliar meskipun pemerintah telah menarik utang luar negeri setara USD7,1 miliar dalam denominasi dolar, euro, dan yuan.
Faktor eksternal seperti potensi konflik di Iran vs AS disebut dapat mempercepat tekanan terhadap Rupiah melalui kenaikan harga minyak, gangguan rantai pasok global, serta perpindahan modal dari emerging market ke aset safe haven.
Berdasarkan data historis, Anthony memperkirakan pelemahan 15 hingga 20 persen dari posisi rupiah sekitar Rp17.000 saat ini dapat membawa kurs menuju Rp20.400 per dolar AS dalam waktu tiga hingga enam bulan ke depan.
“Angka ini bukan asumsi spekulatif, tetapi berbasis pola historis yang pernah terjadi berulang,” ujarnya.
Dia mengingatkan pengalaman krisis moneter 1997 menunjukkan bahwa pelemahan rupiah 25 hingga 30 persen dalam waktu singkat dapat memicu krisis valuta yang lebih luas apabila respons kebijakan terlambat.
"Sejarah menunjukkan, kejatuhan Rupiah sebesar 25-30 persen pada triwulan ketiga 1997 membuat pemerintah meminta bantuan likuiditas kepada IMF. Ketika respons datang terlambat, krisis valuta sudah membesar. Rupiah tergelincir seperti bola salju yang tidak terkendali," jelasnya.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.