JAKARTA - Ketahanan energi Indonesia dinilai lebih kuat dibandingkan negara-negara lain, termasuk Vietnam. Demikian laporan terbaru yang diterbitkan The Economist bertajuk "Which country is the biggest loser from the energy shock".
Berdasarkan laporan The Economist, memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan energi dalam negeri. Termasuk terkait dampak geopolitik di Timur Tengah, terutama dalam jangka menengah.
Pakar ekonomi dan bisnis Universitas Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan Hamid Paddu meminta agar masyarakat tetap tetap bijak dalam menggunakan energi, guna mengantisipasi dampak geopolitik jangka pendek.
”Dari sisi ketahanan energi, kita lebih stabil (dibandingkan Vietnam). Dalam jangka menengah, kita tidak terlalu terpapar, semisal situasi geopolitik sekarang berlanjut,” kata Hamid di Jakarta, Selasa (24/3/2026).
Laporan The Economist tersebut, kata dia, sesuai dengan kondisi ketahanan energi nasional. Yakni, bahwa Indonesia berada pada jalur yang tepat dalam membangun ketahanan energi.
“Saya kira, ya (on the right track). Karena The Economist tentu lebih fair. Mereka tentu melaporkan berbasis data, evidence based yang ada. Informasi yang dia punyai dengan kebijakan yang mereka ketahui,” kata Hamid.
Menurut Hamid, laporan yang menyatakan Indonesia sebagai salah satu negara berkembang yang paling aman dari dampak krisis energi global, karena pemerintah sudah melakukan diversifikasi energi dengan baik.
Antara lain, pembangkit listrik tenaga surya, menggalakkan penggunaan kendaraan listrik dan sebagainya. Tentu saja termasuk yang dilakukan Pertamina, antara lain melalui pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT), semisal panas bumi (geothermal).
Apalagi, lanjut Hamid, dalam masa transisi energi dan diversifikasi energi, Pemerintah melalui BUMN juga terus mencari cadangan minyak baru. Bahkan, saat ini pun Indonesia memiliki cadangan minyak terbukti (proven reserves) mencapai 4,4 miliar barel. Hamid sependapat, cadangan tersebut mampu memperkuat ketahanan energi nasional hingga 10 tahun ke depan.
”Kita masih memiliki cadangan minyak yang cukup besar. Untuk jangka menengah, kita tidak terlalu terpapar jika kondisi geopolitik terus berlanjut,” jelasnya.
Hamid sependapat, tidak perlu ada keraguan terkait ketahanan energi nasional. ”Ya (tidak usah khawatir), karena Indonesia sudah mempersiapkan,” lanjut Hamid. Namun Hamid sependapat, bahwa masyarakat memang perlu bijak dalam menggunakan energi.
Sikap bijak memang tetap diperlukan. Sebelumnya The International Energy Agency (IEA) atau Badan Energi Internasional, menyebut berbagai langkah antisipasi untuk menanggulangi gangguan pasokan energi.
Menurut IAE, 20 Maret 2026, upaya yang dapat dilakukan, antara lain dengan menurunkan permintaan. Upaya yang bisa dilakukan, dengan meminimalkan transportasi darat dan udara, bekerja dari rumah jika memungkinkan. Selain itu, juga melalui peralihan ke kompor listrik.
"Mengatasi permintaan adalah alat penting dan segera untuk mengurangi tekanan (pada) konsumen dengan meningkatkan keterjangkauan dan mendukung keamanan energi,” kata IEA.
Di sisi lain, sebelumnya media internasional asal Inggris, The Economist menilai, Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang paling aman dari dampak krisis energi global akibat eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Posisi ini menempatkan Indonesia dalam kategori negara dengan paparan risiko rendah namun memiliki bantalan ketahanan yang kuat (low exposure, strong buffer).
"Beberapa negara, termasuk Indonesia, tampak relatif terisolasi (dari dampak buruk) berkat perpaduan sumber daya energi domestik dan kebijakan bantalan yang kuat," tulis laporan terbaru The Economist bertajuk "Which country is the biggest loser from the energy shock".
Analisis tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis yang jauh lebih stabil dibandingkan negara tetangga seperti Vietnam.
Meski sama-sama berada di zona low exposure, Indonesia tercatat memiliki skor ketahanan (resilience score) yang lebih tinggi, mengungguli Vietnam yang lebih rentan terhadap gangguan rantai pasok manufaktur global.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.