JAKARTA — Elektrifikasi rumah tangga melalui migrasi ke kompor induksi menjadi langkah strategis untuk menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG yang kian membebani anggaran negara. Konsumsi LPG saat ini mencapai kurang lebih 8 juta metrik ton per tahun, di mana sebagian besar masih dipenuhi melalui impor.
"Ini adalah beban besar bagi neraca perdagangan kita," ujar Wakil Ketua Komisi XII DPR, Sugeng Suparwoto, Rabu (15/4/2026).
Menurutnya, penggunaan kompor induksi lebih efisien dibandingkan kompor gas konvensional. Penggunaan listrik untuk memasak dinilai dapat menekan biaya operasional rumah tangga sekaligus mengurangi beban subsidi energi pemerintah.
"Secara efek, penggunaan listrik di sektor rumah tangga, termasuk kompor induksi, akan menghemat sekitar 30 persen jika dibandingkan dengan penggunaan energi fosil seperti LPG subsidi. Tingkat ketergantungan impor akan kita kurangi secara signifikan," tegasnya.
Ia menambahkan, sistem kelistrikan nasional saat ini berada dalam kondisi kuat untuk mendukung migrasi tersebut, dengan pasokan energi primer pembangkit yang terjaga.
"Kita punya pasokan listrik yang andal dari kekuatan domestik. Dengan mengubah energi berbasis impor seperti LPG menjadi energi berbasis listrik, kita tidak hanya menghemat anggaran, tetapi juga memperkuat kedaulatan energi nasional tepat dari dapur masyarakat," pungkasnya.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.