Menurutnya, UEA memiliki ambisi untuk mencapai kapasitas 5 juta barel per hari pada tahun 2027 dan menginginkan lebih banyak kebebasan bertindak untuk mengejar tujuan tersebut. Keputusan untuk meninggalkan OPEC bukanlah respons terhadap pemotongan produksi selama bertahun-tahun yang dipimpin oleh Arab Saudi, katanya.
"Ini tidak ada hubungannya dengan saudara atau teman kami di dalam kelompok tersebut," kata Al Mazrouei. "Kami telah bekerja sama selama bertahun-tahun. Kami sangat menghormati Arab Saudi karena memimpin OPEC."
UEA tetap berkomitmen pada stabilitas pasar dan akan terus bekerja sama dengan produsen dan konsumen untuk tujuan tersebut, kata Kementerian Energi dalam pernyataan tertulisnya. Keluarnya UEA dari OPEC akan memberikan fleksibilitas lebih besar untuk menanggapi dinamika pasar, tambah kementerian tersebut.
"Kami menegaskan kembali apresiasi kami atas upaya OPEC dan aliansi OPEC+ dan mendoakan kesuksesan bagi mereka," kata Kementerian Energi.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.