JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bergerak dalam kondisi risk-off moderat pada pekan ini. Secara teknikal, IHSG saat ini berada dalam fase downtrend jangka menengah. Indeks berisiko menguji area support di level 6.918 hingga 6.696.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, mengatakan tekanan eksternal menjadi faktor dominan, terutama dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di wilayah Selat Hormuz yang menyebabkan harga minyak dunia tetap tinggi.
"Kondisi Selat Hormuz secara fundamental memberikan tekanan besar berupa kenaikan biaya produksi bagi negara-negara net importir energi, yang pada gilirannya dapat memicu risiko inflasi serta menggerus daya beli masyarakat secara luas," kata David dalam risetnya, Senin (4/5/2026).
Di tengah ketidakpastian pasar, beberapa sektor diprediksi akan terdampak secara bervariasi. Sektor konsumsi dan transportasi menghadapi risiko penurunan signifikan karena lonjakan harga energi meningkatkan biaya operasional. Sementara itu, komoditas nikel dan CPO diperkirakan tetap memiliki ketahanan kuat berkat keterbatasan pasokan global serta dukungan kebijakan dalam negeri.
Oleh karena itu, investor disarankan untuk bersikap defensif dan beralih ke emiten berbasis komoditas yang memiliki fundamental lebih kokoh.
Pada penutupan pekan lalu, IHSG berada di level 6.956,80, mengalami pelemahan sekitar 2,52 persen.
Sepanjang periode tersebut, tercatat aliran modal keluar (outflow) investor asing sebesar Rp5,8 triliun di pasar reguler.
Jika dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2025 di level 8.646,93, koreksi hingga April 2026 ini telah mencapai 19,55 persen secara year to date (YTD) dengan catatan zona merah selama empat bulan berturut-turut.
"Penurunan ini bukan sekadar koreksi teknikal biasa. Ini adalah tekanan sistemik yang berlangsung konsisten. Bulan April 2026 ditutup dengan penurunan 1,30 persen," jelas David.
Pelemahan indeks dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Sikap The Fed yang mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer) memicu aksi jual aset di pasar negara berkembang.
Ketegangan di Selat Hormuz meningkatkan volatilitas harga energi dan kekhawatiran inflasi global.
Sementara dari domestik, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mendorong investor asing melakukan aksi jual untuk membatasi kerugian kurs, dengan total net sell di pasar reguler sepanjang 2026 mencapai Rp45,382 triliun.
Berikut rekomendasi saham dan obligasi dari IPOT:
1. Buy AADI (Current Price: 11.600, Entry: 11.600, Target Price: 12.200 (5,17%), Stop Loss: 11.300 (-2,59%), dan Risk to Reward Ratio 1:2,0).
2. Buy on Pullback LSIP (Current Price: 1.725, Entry: 1.680–1.700, Target Price: 1.800 (7,14%), Stop Loss: 1.620 (-3,57%), dan Risk to Reward Ratio 1:2,0).
3. Buy SSIA (Current Price: 1.785, Entry: 1.785, Target Price: 1.960 (9,80%), Stop Loss: 1.700 (-4,76%), dan Risk to Reward Ratio 1:2,1).
4. Buy Obligasi FR106.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.