JAKARTA – Bank Indonesia (BI) bersiaga di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan optimal serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap sesuai dengan nilai fundamentalnya. Langkah ini diambil merespons dinamika nilai tukar yang terus tertekan oleh kondisi global.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan pelemahan rupiah yang terjadi sejak awal konflik di Timur Tengah masih sejalan dengan tren mayoritas mata uang negara berkembang (emerging markets).
Untuk meredam gejolak tersebut, Bank Indonesia akan memaksimalkan berbagai instrumen moneter, baik di pasar domestik maupun luar negeri (offshore).
“Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder,” ujar Erwin dalam keterangan resminya, Selasa (5/5/2026).
Berdasarkan data BI, pelemahan sejumlah mata uang terhadap dolar AS antara lain Peso Filipina melemah 6,58 persen, Baht Thailand melemah 5,04 persen, Rupee India melemah 4,32 persen, Peso Cile melemah 4,24 persen, rupiah melemah 3,65 persen, dan Won Korea melemah 2,29 persen.
Intervensi tersebut dilakukan secara konsisten sebagai upaya menjaga rupiah dari tekanan global yang masih berlanjut.
Erwin menegaskan bahwa Bank Indonesia berkomitmen penuh untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara terukur demi menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Bank Indonesia terus menegaskan komitmen untuk senantiasa hadir di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” ujarnya.
Adapun nilai tukar rupiah di pasar spot kembali menunjukkan tekanan pada awal perdagangan hari ini. Berdasarkan data perdagangan Selasa (5/5/2026), rupiah dibuka pada level Rp17.401 per dolar Amerika Serikat (AS).
Angka tersebut mencerminkan pelemahan tipis sebesar 0,04 persen dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.394 per dolar AS.
Pelemahan ini sejalan dengan antisipasi analis pasar uang yang memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung tertekan di kisaran Rp17.390 hingga Rp17.440 per dolar AS.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.