JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total penduduk Indonesia mencapai 284,67 juta orang berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025. Dari jumlah tersebut, penduduk masih terkonsentrasi di Pulau Jawa yang menampung sekitar 55,65 persen dari seluruh warga Indonesia.
Meskipun jumlah penduduk terus bertambah, laju pertumbuhannya tercatat melambat.
SUPAS 2025 memotret laju pertumbuhan penduduk Indonesia di level 1,08 persen per tahun sepanjang lima tahun terakhir. Angka ini menurun dibandingkan hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 yang berada di posisi 1,10 persen.
Kepala BPS RI Amalia Adininggar Widyasanti menyebut melandainya pertumbuhan tersebut merupakan bagian dari dinamika kependudukan yang terus berubah dari waktu ke waktu.
“Laju pertumbuhan penduduk yang melambat menunjukkan adanya perubahan pola demografi yang perlu diantisipasi dalam perencanaan pembangunan ke depan,” ujar Amalia dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Dari komposisi usia, penduduk Indonesia saat ini didominasi kelompok usia produktif dengan porsi sekitar 68,92 persen. Kelompok ini mayoritas terdiri dari generasi Milenial (kelahiran 1981–1996), Gen Z (1997–2012), hingga Post-Gen Z (2013 ke atas).
Namun di balik besarnya populasi usia produktif tersebut, rasio ketergantungan penduduk justru meningkat. Data SUPAS 2025 mencatat rasio ketergantungan berada di angka 45,05, yang berarti setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 45 penduduk usia nonproduktif.
Kondisi ini sedikit lebih tinggi dibandingkan hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 (LF SP2020) yang berada di level 44,33.
“Kita perlu berhati-hati karena angka rasio ketergantungan mulai meningkat. Indonesia masih mengalami bonus demografi, namun sudah memasuki fase aging population karena proporsi penduduk lansia telah berada di atas 10 persen, tepatnya 11,97 persen,” ujar Amalia.
Dari sisi fertilitas, angka kelahiran total (Total Fertility Rate/TFR) Indonesia tercatat semakin mendekati ambang replacement level di posisi 2,13, turun dari 2,18 pada LF SP2020.
Penurunan angka kelahiran ini terutama terjadi pada kelompok perempuan usia muda, yakni 15–19 tahun dan 20–24 tahun.
Di sisi lain, indikator kesehatan masyarakat menunjukkan perbaikan signifikan.
Hal ini tercermin dari penurunan angka kematian bayi (Infant Mortality Rate/IMR) menjadi 14,12 kematian per 1.000 kelahiran hidup, lebih rendah dibandingkan catatan LF SP2020. Penurunan ini menunjukkan peningkatan kualitas kesehatan dalam satu dekade terakhir.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.